Halaman

    Social Items

Cerita Bispak Nada4D - Cerita Sex Ayah Dan Lingeryku, Ini adalah kisahku yang ingin aku sharekan kepada pembaca yang bercerita tentang pengalamanku bersama

ayah. Meskipun kisah ini adalah tabu dan tak bermoral. Namun ini hanya cuplikan dari sepenggal

kehidupan.


Diamana aku aku bercinta dengan Papa kandungku sendiri. Namun terus terang aku terbius dan begitu

menikmatinya gila, memang gila. karena tergila-gila, dan sudah berlangsung sangat lama dan aku benar-

benar menikmatinya.


Ku punya pengalaman yang sangat super gila dan itu sudah berlangsung sangat lama dan aku benar-benar

menikmatinya. Pengalaman itu adalah “aku bercinta dengan papa kandungku sendiri”. Dan aku akan

menceritakannya kepada kalian semua.


Pengalaman itu terjadi pada waktu aku kuliah tingkat satu, sebelumnya aku ceritakan dulu asal usulku.

Namaku sebut saja gadis, aku anak pertama dari dua bersaudara, adikku cowok dan masih duduk di SMA.


Ayahku suku jawa dan ibuku sunda, usiaku sekarang 20 tahun dan aku senang sekali bergaul dan merasakan

angin malam di diskotik atau cafe-cafe. Ayahku bekerja di perusahaan swasta sebagai senior marketing dan

Ibuku bekerja sebagai sekertaris. Ayah dan Ibuku bercerai sejak aku duduk di SMA. Slot Online Terpercaya


Disanalah celana dalam, bra dan lingerie-lingerie atau baju tidurkku yangg seksi berbahan satin aku

temukan tetapi semua terdapat noda putih seperti sperma lelaki. Aku bingung siapa yangg melakukan hal

seperti ini sedangkan di sini Cuma hanya ada aku dan ayahku saja. Awalnya aku menduga ayahku tetapi

tidak berharap banyak karena aku tahu ayahku seperti apa orangnya.*


Jadi aku merencanakan untuk membuat jebakan, aku beli celana dalam model G-string dan baju tidur

transparan. Pas dimalam harinya aku pakai dan keesokan hari, sehabis mandi aku taruh di paling bawah

pada tempat pakaian kotorku.


Sepulang dari kuliah aku langsung mengecek tempat pakaian kotorku dan benar yang perkirakan, baju tidur

dan g-stringnya hilang! Disitulah awal aku mencurigai ayahku, karena aku temukan pakaian dalam dan baju2

tidurku di kamarnya. Dan tidak hanya itu saja, di komputernya terdapat video saat aku sedang mandi dan

ganti baju, video ayahku sedang memakai baju tidur satinku sambil menciumi celana dalamku dan beronani

dengan celana dalamku sambil menyebut2 namaku:


“ Gadis…oh..gadis.. anakku”!

“aku ingin mengentotimu sayang, menjilati dan mengulum tetemu”.


Iklan Sponsor :


Aku sempat kaget dan syok, tetapi ada sebagian gairahku yg menikmatinya saat ayahku menjilati celana

dalam kotorku dan memanggil-manggil namaku. Dan itu menyenangkan sekali.


Aku ingin mencoba menjebaknya lagi, jadi sorenya aku belanja baju tidur lagi, bedanya kali ini aku

meminta uang tambahan kepada ayahku jadi dia pasti tahu bahwa aku akan belanja baju tidur dan celana

dalam.


“Yah, minta uang dong, gadis mau beli celan dalam dan lingerie baru” kataku sambil bermanja-manja dan

merayunya.


“Loh kamu kan punya banyak celana dalam dan lingerie yg bagus-bagus, dan bukannya baru kemarin kamu beli

celana dalam dan baju tidur” tanya ayahku dengan polos. Aku diam sebentar dan berfikir.

“Darimana ayahku tahu kalau aku kemarin belanja”.

“Kok ayah tahu kalau kamarin aku baru beli baju tidur dan celana dalam?” tanyakku dengan nada menjebak.

Ayah ku diam seribu bahasa, dia kaget dan lupa.

“Ya udah nih ayah tambahin, sana cepat pergi nanti keburu malam, beli yang banyak dan yang bagus

sekalian!” kata ayah sambil memberikan kartu kreditnya.

“Wah….terima kasih ayah….sayang…”kataku kegirangan sambil mencium pipi ayahku. (wow aku senang sekali

tidak menyangka ayah akan memberikan kartu kreditnya menyuruhku untuk beli celana dalam dan lingerie

yang banyak.)


Aku langsung pergi ke mall dan beli 2 gaun tidur satin warna krem dan pink model panjang , 2 baju tidur

tipis transparan dengan model tali yang mengikat dileher, 2 baju tidur model baby doll seksi, 4 bra, 5 g

string satin dengan renda-renda yang seksi sekali, dan 5 celana dalam satin dan transparan.


Sampai dirumah aku langsung memberitahu ayahku apa saja yang aku beli.


“Lihat ini ayah, ini aku beli banyak sekali ayah suka kan”.

“Oh… iya sayang pasti kamu terlihat cantik sekali kalau memakainya”. rayu ayahku.

“Ih..ayah genit…masa gadis mau memperlihatkan di depan ayah, kan malu”.

”Ya udah ah gadis mau mandi, trus mo bobo pake baju tidur baru”. kataku sambil pergi kekamar untuk

bersiap mandi.

“Mau ayah bantu pakaikan baju tidurnya tidak sayang..!”*

”Ih Ayah..genit.., gak mau ah Tar kalau ayah nafsu kan bisa bahaya!” teriakkku dari kamar mandi.


Sepertinya ayah mencoba mengintip dan merekamku saat aku sedang mandi, aku tahu karena ada banyangan

diluar kamar mandiku. Dan aku pura2 tidak tahu, sambil terus mandi dan mencoba untuk memperlihatkan

lebih jelas lekuk-lekuk tubuhku kepada ayahku.


“Nikmatilah keindahan tubuh anakmu ini … ayahku bejat” dalam hatiku.


Saat aku hendak keluar bayangan itupun langsung hilang, lalu aku kekamar dan bersiap untuk mamakai baju

tidurku yang baru model baby doll warna biru muda dengan celana dalam g string biru pula.


Aku meihat diriku di cermin dan bergumam:“hmmmm…. ayahku yang bejat lihatlah anakmu ini..seksi sekali,

ayah pasti terangsang melihat anakmu dan baju tidur anakmu ini… ohhh… ayah…. aku berdebar sekali..!”

lalu aku keluar kamar untuk pamit tidur pada ayahku sambil berharap bisa menggodanya.


“Yah…, gadis bobo dulu ya udah ngantuk dan cape nih habis belanja tadi, dah ayah…” kataku sambil

menutupi payudaraku karena aku tidak memakai bra.

“Ya udah, tapi ayah cium dulu dong,”


Lalu aku cium pipi ayahku dan mencoba pergi ke kamar untuk bobo tetapi ayahku meminta aku untuk

menciumnya lagi sambil merayuku,


“Loh kok cuma dipipi, bibirnya mana…… anakku yang cantik.. dan….” lalu terdiam sambil menelanjangi

tubuhku dengan sorotan matanya yang liar.

“Dan … apa kok diem…!” tanyaku penasaran.

“Dan tubuhmu sangat seksi sekali..dengan baju tidur itu.”


Aku kaget dan merasa cantik sekali mendengar perkataan ayahku itu.

Aku terdiam, aku dekati ayahku yang sedang duduk …. dan diam.


“Oh gadis sayang, maafkan perkataan ayahmu ini, aku sudah lama tidak melihat wanita cantik, aku jadi

nafsu dan terangsang melihat kamu, oh sayangku maafkan ayah ya, ayah akan berikan apa saja asal kamu

tidah marah dan memaafkan ayahmu ini.” kata ayahku memohon ampun sambil memegang tanganku.


Aku diam…, lalu … duduk di pangkuannya dengan posisi berhadapan lalu aku cium ayahku tepat di bibirnya,

bukan hanya kecupan biasa tetapi kecupan … merangsang! Aku cium ayahku sambil lidahku menyapu langit2

mulutnya.


“hmmmmm.. ahh… hmmmmmmuuumm” lama…lama sekali kami berciuman seperti sepasang kekasih yang lama tidak

bertemu, lalu tiba-tiba tangan ayahku memeluk dan meremas pantatku dan tangan kirinya menjamah

payudaraku yang tidak berbra.Cerpen Sex


Aku tersentak dan pergi ke kamar.


“Udah ah.., daah ayah..” Aku pergi meninggalkan ayahku terbengong-bengong.


Aku bisa merasakan batang penisnya membesar mengenai memekku.


“haha..ha, malam ini ayah pasti merekamku saat sedang tidur sambil mengelus-elus penisnya dengan celana

dalam yang aku pakai waktu pergi kuliah.” kata ku dalam hati merasa senang karena jebakan ini berjalan

sempurna.


Dan benar saja, tidak lama aku masuk kamar ayah berusaha masuk dengan tidak bersuara, tetapi aku sudah

menduga dan mengunci pintu kamarku jadi ayah hanya bisa mengintip dari luar saja dan sengaja lampu tidak

aku matikan supaya terlihat jelas oleh ayahku. Lalu aku pun tertidur dengan jantung berdebar dan mimpi

yang sangat indah.


Ke esokkan harinya aku memutuskan untuk tidak bolos kuliah dengan berpura-pura aku akan kuliah, baju

yang aku pakai semalam aku taruh paling atas agar ayah mudah melihatnya.

‘Yah, gadis berangkat ya…,”

“Ya…hati-hati ya sayang.”kata ayah sambil mengikutiku sampai ke gerbang, memastikan aku telah pergi

jauh, lalu mengendap-endap mengambil baju tidur yang aku pakai semalam.


Selang 10 menit, aku balik ke rumah dengan menggunakan kunci cadangan, lalu pergi mencari ayahku. Sepi…

sekali, aku lihat dalam kamar mandi, baju tidur yang semalam aku pakai ternyata tidak ada, lalu aku cari

ayah dikamarnya ternyata juga tidak ada, lalu ada suara dari dalam kamarku, suara seperti lemari baju

terbuka. Aku coba mendekati kamarku, pintunya tidak tertutup rapat, aku melihat ayahku sedang memakai

baju tidur yang aku pakai semalam dan samar-samar aku juga melihat g stringku di pakainya.


Pantas saja celana dalamku banyak yang jadi agak-agak lebar ukurannya. Ayahku sedang mengacak-acak

lemari pakaian dalamku sambil memegang sebuah bra (bra aku yang hilang 3 hari lalu), lalu menciuminya

dan ditangan kanannya sebuah celana dalam satin warna hijau muda dengan renda bungan biru didepannya

(celana dalamku juga yg hilang) digosok-gosokkan maju mundur pada penisnya, sambil berteriak kecil.


“Uhhh…ohhhh hemmmm, gadis..ohhhh ayah masukin ya penis ayah ke memek kamu sayang..ohhh…”


Aku kaget sekali.., tidak menyangka ayahku seperti ini, tetapi selangkanganku berkata lain diam-diam

memekku basah. Apalagi penis ayahku, wow besar dan panjang sekali, aku heran kenapa penis seumuran

ayahku kok masih bisa besar seperti itu. Kakiku lemas sekali, lalu aku coba kagetkan ayahku dengan

berdehem


“ hek ..em.., ohhh jadi itu kenapa celana dalam ku banyak yg hilang dan banyak yg benoda dan berbau

sperma, dan baju tidurku dan braku juga pada melar semuanya.” Kataku pedas pada ayahku.


Ayahku kaget sekali karena putrinya ternyata berpura-pura berangkat kuliah untuk menjebak ayahnya yg

bejat.


“oh gadis…hmm maaf sayang…, maaf kan ayah sayang, huhuu…(sambil menangis) ayah salah.. maafkan ayah,

ayah kalau melihat kamu.. tubuh kamu yang indah dengan pakaian-pakaian seksi ini jadi terangsang sekali.

Kamu punya pakaian dalam seksi sekali.*


“oh gadis maaf kan ayah.”kata ayahku sambil beranjak keluar kamar menuju kamarnya.


Aku terdiam, merasa cantik dengan kata-kata ayahku.


“hmmm jebakanku berhasil, sekarang selanjutnya!”


Selang 5 menit, aku menuju kamar ayahku aku ketok pintunya .. Tok..Tok..Tok


“Ayah.., boleh gadis masuk.”

“Ya masuklah”Ayahku menyuruhku masuk.Cerpen Sex


Tetapi pas aku masuk sebelum aku berbicara, ayahku memberikan ku sebuah kotak kardus dan isinya adalah

semua pakaianku yang sudah lama hilang, ada rok lipitku yg mini, stocking, baju renang dan bikini, tank

top dan banyak lagi. Aku kaget sekali dan senang karena pakaianku akhirnya kutemukan kembali.


“Ayah.., ini semua punya gadis?”tanyaku.

“iya sayang, semuanya punya kamu.”kata ayahku dengan wajah malu.


Lalu aku taruh kotak itu dan aku duduk bersama ayahku di tepi ranjang. Dan ku kecup pipi ayahku dan

berkata:


“Yah…, ayah boleh kok pake semua baju dan pakaian dalam gadis, ayah juga boleh kok gosok-gosok penisnya

ayah dan ninggalin spermanya ke celana dalam gadis tetapi harus celana dalam yg bersih…!”kataku.*


Ayahku bengong mendengar aku berbicara seperti itu, “hah, bener tidak apa-apa sayang.”


“Iya, tetapi harus celana dalam yg bersih ya..” “loh kenapa emang?”tanya ayahku.*

“Supaya celana dalamnya bisa langsung gadis pakai, gadis mau coba celana dalam yang ada spermanya

ayah.”kataku sambil memeluk ayahku.*

“kalau gadis emang suksa sama spermanya ayah bilang aja nanti ayah berikan sayang, atau mau ayah isi

memek kamu”kata ayahku sambil mencium dan merabaku.*

“Ih ayah…, kan gadis malu kalau bilang langsung sama ayah, lagian kan takut ayah nanti marah.”kataku

sambil membiarkan tanyan ayahku meremas payudaraku.*

“Ahhh! Ayah genit ah..!”

“Hmmm sini cium ayah dong sayang..mmmuuuahhh”.


Lalu aku berdiri dan berkata:“ayah,… gadis mau liat ayah pake baju tidurnya gadis dong..” “Oke” kata

ayahku senang.


“Yuk kita kekamar gadis aja.” kataku sambil menggandeng ayahku. Sampai dikamar, ayahku langsung menunjuk

baju tidur model transparan*

“Yang ini sayang?”

“Oh, bukan ayah, tetapi yang ini (sambil mengeluarkan lingerie model gaun yang panjang dengan model

depannya agak terbuka dari perut sampai ke bawah berbahan slik satin yg anggun berwarna emas dan berenda

seksi).”

“wow.., cantik sekali sayang” “Ayo di pakai ayah”. Lalu aku pun melihat ayahku melepaskan pakaiannya

dan memakai lingerie yg aku beli itu.*

“Bagus tidak sayang”tanya ayahku.

“Wow cantik sekali ayah” Karena model lingerienya agak terbuka bagian depannya maka aku bisa melihat

penis ayahku keluar dari g string warna emasnya.*

“Nah sekarang kamu anakku yang cantik, kamu pakai apa?”tanya ayah.

“Hmmmm aku pake ini aja” Aku ambil lingerie model atasan terpisah, jadi atasnya model tank top sedangkan

bawahnya model rok lipit pendek diatas dengkul.*

” Ohh.., ayah mau lihat kamu pake lingerie itu sayang.*

“Tapi ayah tunggu disini yah, gadis mau ganti di kamar mandi dulu”.*

“Oke deh, mau ngasih kejutan yah”kata ayah. Lalu aku pun beranjak ke kamar mandi untuk ganti baju.


Sekitar 10 menit, aku pun keluar dengan hanya memakai lingerie dan bagian bawahnya hanya memakai g

string yg bagian memeknya terbuka. Ayahku menyambutku dengan mencium, memeluk dan meraba dada dan

memekku.*


“Ohhhhh…sshhhhhhh”.*

” ayahhhh….shhhhh …mmmmpppppm..”*

“Ohhh……, memek gadis di apain sih…ssshhhhhh, enak banget” jari-jari ayahku keluar masuk di memekku,

membuat aku serasa terbang, sudah lama aku tidak merasakan nikmat seperti ini. Payudaraku tidak luput

dari hisapannya.Cerpen Sex


“ssslluurrrrppppp….ah…, tetek kamu besar sekali ya dan enak rasanya…, ayah suka sekali…beda dengan

ibumu.” Kata ayah memuji. Memang payudara ibuku tidak sebesar aku, tidak tahu aku mirip dengan siapa.

“Ayah…, ssssshhhhhhh udah ahhhhhh … gadis gak kuat lagi nih….!”kataku dengan tubuh yg sudah tidak

sanggup lagi menahan rangsangan-rangsangan yang diberikan ayahku.*

“Nanti dong sayang, ayah masih belum puas nih menikmati tubuhmu, memek kamu saja belum ayah apa-apain.”

kata ayahku dengan penis yg mengacung keluar dari celana g string satin yg dipakainya,

“Tenang saja ya sayang, pokoknya nanti ayah berikan kamu sperma yang banyak, biar nanti bisa kamu minum

atau diisi kedalam rahimmu, karena itu nikmatnya luar biasa sekali.” Kata ayah sambil memberikan

penisnya untuk aku hisap,*

“Hisap sayang, kamu bersihkan dulu penis ayah ini, “Kamu suka kan melihat penis ayah dengan g string

ini”.


Memang aku terangsang sekali melihat ayahku memakai lingerie dan g string yg aku belikan, rasanya aneh

karena aku tidak menyangka kalau ayahku mempunyai “hobi” yg sedikit gila, tetapi aku sendiri lebih gila

karena bersetubuh dengan ayahku…ayah kandungku sendiri tetapi sebenarnya aku sedikit kasihan juga dengan

ayah karena telah dikhianati oleh istrinya sendiri. Aku menghisap penis ayahku lama sekali,*


“hemmmmmmmm …..slurrppppp…. ahhhh… shhhhhh, ayah kok kuat sekali sih….

” hmmmmm ahhhhh” kataku sambil terus memberikan kocokan dan hisapan.

“Ahhhhhh oke sayang….kita lanjut ke adegan selanjutnya ya..”kata ayahku sambil merebahkanku di kasur.*

“Coba kamu lebarkan kaki kamu sayang…, ayah mau periksa memek kamu, sudah berapa kontol yg pernah

mencicip memekmu ini.”kata ayah sambil membuka memek aku.

“Ahhhhh…shhhhh ayahhhhh…… kan baru punya doni saja (pacar aku baru berhubungan 3 bulan), itu juga baru 2

kali aku main dengan doni…ahhhh, ayo dong ayahhhh…shhhh jangan Cuma diliatin aja.”

“Ohh, pantas ayah pernah nemuin ada bercak noda di celana dalam kamu, tapi kontolnya ayah sama punya

Doni besaran mana?”kata ayahku sambil memasukan jari tengah ke dalam memekku.


“hmmmmmmm…..ahhhhh ayyaahhhhh ahhhhh…shhhhhhh udahhhh dooonggg mainin memek gadis…”kataku tidak kuat

lagi.*

“Ayo jawab dulu dong, besaran mana punya ayah atau punya Doni, nanti ayah kasih hadiah istimewa, ayo

jawab…” kata ayahku melebarkan memekku dengan kedua ujung jempolnya dan menjilati isi dan cairan

memekku.*


“ohhhhh …shhhh enak banget ayah…,shhhhh punya ayah lebih besar….”.*

“Apa….ayah tidak dengarrr…”kata ayahku menggodaku.*

“Ahhhhhhh…shhhhhh KONTOL AYAH LEBIH BESARRRR…..”teriakku jorok.

“Ih gadis….kamu sudah bisa ngomong jorok yah, nanti ayah entot kamu..hah…kamu mau ayah entot…hah…mau

ayah sodok memek kamu pake kontolnya ayah..hah” kata ayah dengan nada membentak dan menghisap dalam-

dalam liang memekku.*

“ahhhhhh………mauuuuuu ayahhhhh….shhhhhhh tolong entot gadis…, tolong perkosa gadis….ayahh…..!”


Ayah lalu menempelkan ujung penisnya ke bibir memek anaknya sendiri, sambil menggesek-gesekkan dan

melebarkan memekku. Aku pun pasrah menanti kenikmatan yg akan diberikan oleh ayah kandungku.


*“ohhhhh…shhh ayah….hhh hufffffff….besar banget sihh kontolnya….., memek gadis muat tidak

nih….shhhh”berdebar jantungku karena besarnya penis ayahku hendak masuk kedalam liang memekku.

“ahhhhhhhhhhh………..shhhhhhh sakit ayahhhh…..shhhhhh…..ohhhhh enak banget…….ohhhhhhh…..terus masukin

ayahhhh yg dalammm…hmmmmmmmm!” kataku merem melek menikmati genjotan ayahku, memekku sedikit sakit

karena besarnya penis ayahku yg memaksa masuk kedalam liang memekku.*


“Ohhhh….memek mu ini sempit sekali sih sayang…, pasti kamu akan lupa dengan pacarmu itu, sudah kamu

lupakan saja si

Doni bodoh itu dan jadi kekasih ayah saja ya sayang…., biar ayah bisa bebas menikmati tubuh dan baju-

baju kamu yg bagus dan seksi-seksi itu oke” kata ayahku mempercepat gerakannya dan meremas payudaraku

kiri kanan.*

“Ohhhh hmmmmm….. iyaaa ayahhh, tubuh gadis akan sepenuhnya milik ayah….dan juga pakaian gadis, ayah

boleh bebas memakai celana dalam dan bra gadis….

*”ohhhhh…..!”aku melengguh panjang ini pertanda orgasmeku yg pertama…(gila…sama doni biasanya aku hanya

sampai ini saja .., tetapi sama ayahku ….aku bisa merasakan nikmatnya luar biasa dan ingin selamanya

seperti ini).

“ohhhhh….ayahhhh terus ayahhh…nikmatilah tubuh anakmu ini ayahhh sayang…!”


Tiba-tiba ayahku merubah posisi, “Dis, coba kamu nungging…” (Ohh…mau diapakan aku ini)”baik yah.., gadis

mau di apain sih?”tanyaku penasaran.*


“Ayah mau ngasih kamu hadiah karena tadikan kamu sudah jawab pertanyaan ayah, tetapi kamu tahan sebentar

ya…pokoknya tenang aja oke”. Slot Online Terpercaya


Aku penasaran apa yg ayah lakukan, tiba-tiba aku merasa ada benda lunak yg basah menempel di lubang

pantatku, dan lubang pantatku tiba-tiba terasa terbuka..ohh jangan-jangan…..dan benar saja ayahku sedang

menjilati lubang duburku dan membuka lubangku dengan kedua jarinya….


”Ohhhh ayahhhhhhh shhhh mau diapain pantat gadis….., jangan ayahh…..sakit…..jangan paksain ayahh……

ohhhhhh”,tiba-tiba ayahku memasukkan satu jarinya kedalam pantatku…

*”ohhhhh shhhhhh gadis gak mau ayahhhh…..nanti sakit…..ohhhh jangan ayah…..sudah gadis tidak

mau….ahhhhhhh jangannnnnnn ….hmmmmmmmmmmmm ooohhhhhhhhh,”.


Ayahku tetap memaksa kan masuk penisnya yg besar kedalam lubang duburku tanpa menghiraukan perkataanku

dan memompanya dengan liar.*Cerpen Sex


“Ohhhh..shhhhhhhhhh”.*


Creett…pokk..pokkkk…pokkkkkk, bunyi pantatku beradu dengan tubuh ayahku.


(Ohhh….hmmm enak sekali rasanya…nikmatt juga…..bercinta di lubangku yg satu ini).


“ohhhhhh ayah jahat…..ayah jahat…kok di paksain sih…!”

“Tapi enak kan sayang…,”kata ayahku sambil menciumku dan meremas-remas payudaraku.

“he’he sih….. enak banget…., tapi kan kontol ayah gede banget ….t”


Kurang lebih 30 menit kami bercinta, hingga ayahku tiba pada waktunya untuk menyiram liangku dengan

spermanya.*


“Dis, ayah mau keluar nih.., ayah keluarin di dalam ya!”*

“Iya yah.., banjirin memek gadis yah!”*


Ayahku pun mencabut penisnya dari lubang pantatku dan memasukkan ke dalam memekku!*


“Ohhhhhhnhhh…..nikmat sekali…!” lengguh ayahku menandakan spermanya sudah keluar.*

“ohhhh hangat sekali…..hmmmmmmmm terus yah… isi yg banyak….!”kataku.*


Dan ayah mencabut penisnya dan menyodorkannya ke wajahku, aku langsung mengulumnya dan meminum spermanya

dengan rakus, banyak sekali sperma ayahku sampai banjir membasahi tetekku dan baju tidurku. Aku beranjak

dari tempat tidur untuk mengambil celana dalam dan braku untuk aku lumuri dengan sperma ayahkku. “Ahhh

enak kan sayang ayah entot pantat kamu”kata ayahku mengagumi anak perempuannya yg basah karena keringat

dan mandi sperma.*


“Besok kita belanja celana dalam, baju tidur, stocking, bra, rok pokoknya pakaian wanita lah yg seksi-

seksi.” kata ayahku membelai memekku yg basah.*

“Asikk, yang banyak ya yah, nanti kita gantian makenya ya yah!”kataku senang.


Malam itu pun kami lalui dengan indah dan hubungan aku dan ayahku semakin jauh dan mesra. Dan kalau aku

minta uang untuk beli pakaian baru papa pun tidak marah malah aku diberikan kartu kredit untuk aku

gunakan sepuasnya dan tentunya aku beli pakaian untuk aku sendiri dan papaku.

Cerita Sex Ayah Dan Lingeryku

Cerita Bispak Nada4D - Cerita Sex Vaginaku, Namaku Anggi, umurku 22 tahun. Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jogja. Saat ini aku sudah berada di tingkat akhir dan sedang dalam masa penyelesaian skripsi. Sebelum aku memulai kisah yang akan menjadi kisah indah bagiku, perkenankan aku mendeskripsikan diriku. Tinggiku 160 cm dengan berat 45 kg. Rambutku hitam panjang sepinggul dan lurus. Kulitku putih bersih. Mataku bulat dengan bibir mungil dan penuh. Payudaraku tidak terlalu besar, dengan ukuran 34 B.


Pada bulan lalu, seorang laki-laki umur 28 tahun memintaku jadi pacarnya. Permintaan yang tak mungkin aku tolak, karena dia adalah sosok yang selalu ku impikan. Dia seperti pangeran bagiku. Badannya yang tinggi dan atletis serta sorot matanya yang tajam selalu membuatku terpana. Namanya adalah Rico, kekasih pertamaku. Rico sudah bekerja di perusahaan swasta di Jogja. Rico sangat romantis, dia selalu bisa membawaku terbang tinggi ke dunia mimpi.

Cerita Sex Vaginaku

Jutaan rayuan yang mungkin terdengar gombal selalu bagai puisi di telingaku. Sejauh ini hubungan kami masih biasa saja. Beberapa kali kami melakukan ciuman lembut di dalam mobil atau saat berada di tempat sepi. Tapi lebih dari itu kami belum pernah. Sejujurnya, aku kadang menginginkan lebih darinya. Membayangkannya saja sering membuatku masturbasi.

Hari ini (30 Maret 2010) tepat sebulan hari jadi kami. Rico dan aku ingin merayakan hari jadi tersebut. Setelah diskusi panjang, akhirnya diputuskan weekend kita berlibur ke kaliurang. Slot Online Terpercaya


Sabtu yang ku tunggu datang juga. Rico berjanji akan menjemputku pukul 07.00 WIB. Sejak semalam rasanya aku tidak bisa tidur karena berdebar-debar. Untuk hari yang istimewa ini, aku juga memilih pakaian yang istimewa. Aku mengenakan kaos tanpa lengan berwarna biru dan celana jeans 3/4. Rambut panjangku hanya dijepit saja. Karena takut nanti basah saat bermain di air terjun, aku membawa sepasang baju ganti dan baju dalam. Tak lama kemudia Rico datang dengan mobil honda jazz putihnya. Ahh,, Rico selalu tampak menawan di mataku. Padahal dia hanya memakai kaos hitam dan celana jeans panjang.


“Sudah siap berangkat, Nggi?” aku pun mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil.


Perjalanan tidak memakan waktu lama karena jalanan masih cukup sepi. Sekitar 45 menit kemudian kita sampai di tempat wisata. Ternyata pintu masuk ke area wisata masih ditutup.


“Masih tutup, mas.. Kita jalan dulu aja ke tempat lain, gimana?” tanyaku

“Iya.. coba lebih ke atas. Siapa tau ada pemandangan bagus.”


Rico segera menjalankan mobilnya. Tidak begitu banyak pemandangan menarik. Begitu sekeliling tampak sepi, Rico memarkir mobilnya.


“Kita nunggu di sini aja ya, sayang. Sambil makan roti coklat yang tadi aku beli. Kamu belum sarapan, kan?”

“iya, mas.. Anggi juga lapar”


Sambil makan roti, Rico dan aku berbincang-bincang mengenai tempat-tempat yang akan kami kunjungi. Tiba-tiba…


“Aduh Anggi sayang, udah gede kok makannya belepotan kayak anak kecil,,,” ucapnya sambil tertawa.


Aku jadi malu dan mengambil tisue di dashboard. Belum sempat aku membersihkan mukaku, Rico mendekat,


“Sini, biar mas bersihin.” Aku tidak berpikir macam-macam.


Tapi Rico tidak mengambil tisue dari tanganku, namun mendekatkan bibirnya dan menjilat coklat di sekeliling bibirku. Oooh,, udara pagi yang dingin membuatku jantungku berdebar sangat kencang.


“Nah, sudah bersih.” Ucap Rico sambil tersenyum.


Tapi wajahnya masih begitu dekat, sangat dekat, hanya sekitar 1-2 cm di hadapanku. Sekuat tenaga aku mengucapkan terima kasih dengan suara sedikit bergetar. Rico hanya tersenyum, kemudian dengan lembut tangan kirinya membelai pipiku, menengadahkan daguku. Bisa ku lihat matanya yang hitam memandangku, membuatku semakin bergetar. Aku benar-benar berusaha mengatur nafasku. Seketika, ciuman Rico mendarat di bibirku. Aku pun membalas ciumannya. Ku lingkarkan kedua tanganku di lehernya.


Ku rasakan tangan kanan Rico membelai rambutku dan tangan kirinya membelai lenganku. Tak berapa lama, ku rasakan ciuman kami berbeda, ada gairah di sana. Sesekali Rico menggigit bibirku dan membuatku mendesah,


“uhhhh…” refleks aku memperat pelukanku, meminta lebih.


Tapi Rico justru mengakhirinya,


“I love you, honey” Lalu mengecup bibirku dengan cepat dan melepaskan pelukannya.


Aku berusaha tersenyum,


“I love you, too”. dalam hati aku benar-benar malu, karena mendesah.


Mungkin kalau aku tidak mendesah, ciuman itu akan berlanjut lebih. Aaahh,,, bodohnya aku. Rico lalu menjalankan mobilnya menuju tempat wisata.


Kami bermain dari pagi hingga malam menjelang. Tak terasa sudah pukul 19.00 WIB. Sebelum kembali ke kota, kami makan malam dulu di salah satu restoran. Biasa, tidak ada makan malam hanya 1 jam. Selesai makan, ku lihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 21.30


“Waduh, mas,,, sudah jam segini. Kos Anggi dah tutup, nih. Anggi lupa pesen maw pulang telat. Gimana, ini?”

“Aduuh,, gimana, ya?? Ga mungkin juga kamu tidur di kos mas.”

“Uuuh,, gimana, dong??”

“Udah, jangan cemas. Kita cari jalan keluarnya sambil jalan aja.”


Selama perjalanan aku benar-benar bingung. Di mana aku tidur malam ini??


“Sayang, kita tidur di penginapan aja, ya. Daerah sini kan banyak penginapan. Gimana?”

“Iya deh, mas.. dari pada Anggi tidur di luar”


Tak lama kemudia Rico berhenti di sebuah penginapan kecil dengan harga murah. Tapi ternyata kamar sudah penuh karena ini malam minggu dan banyak yang menginap. Sampai ke penginapan kelima, akhirnya ada juga kamar kosong. Tapi cuma satu.


Karena sudah hampir pukul 23.00 kami memutuskan mengambil kamar tersebut. Sampai di kamar, Rico langsung berbaring di kasur yang ukurannya bisa dibilang single bed. Aku sendiri karena merasa badna lengket, masuk ke kamar mandi untuk ganti baju. Selesai mandi, dalam hati dongkol juga. Kalau tau nginap begini, satu kamar, aku kan bisa bawa baju dalamku yang seksi. Terus pake baju yang seksi juga.


Soalnya aku cuma bawa tank top ma celana jeans panjang. Hilang sudah harapanku bisa merasakan keindahan bersama Rico. Selesai mandi, aku segera keluar kamar. Tampak Rico sudah tidur. Sedih juga, liat dia udah tidur. Aku pun naik ke atas kasur dan membuat dia terbangun.


Iklan Sponsor :




“Dah selesai mandi, ya..”

“Iya,, mas ga mandi??”

“Ga bawa baju ganti ma handuk”

“Di kamar mandi ada handuk, kok. Pake baju itu lagi aja, mas”


Rico mungkin merasa gerah juga, jadi dia pun mengikuti saranku. Gantian aku yang merasa mengantuk. Segera ku tarik selimut dan memejamkan mata tanpa berpikit apa-apa. Baru beberapa saat aku terlelap, ku rasakan ada sentuhan dingin di pipiku dan ciuman di mataku. Saat aku membuka mata, tampak Rico telanjang dada. Hanya ada sehelai handuk membalut bagian bawah. Badannya yang atletis tampak begitu jelas dan penampilannya membuatku menahan nafas.


“Ngga dingin mas, ga pake baju. Cuma pake handuk” Kataku dengan senyum penuh hasrat.Cerpen Sex


Tidak ada jawaban dari Rico. Dengan lembut dan cepat di rengkuhnya kepalaku dan kami pun berciuman. Bukan ciuman lembut seperti biasanya. Tapi ciuman penuh gairah. Lebih dari yang tadi pagi kami lakukan. Lidah kami saling bermain, mengisap, “mmmm…mmm..”


Ku lingkarkan tanganku di punggungnya, ku belai punggungnya. Tangan kananku lalu membelau dadanya yang bidang, memainkan puting susu yang kecil. Gerakanku ternyata merangsang Rico, di peluknya aku lebih erat, ku rasakan badannya tepat menindihku. Rico mengalihkan ciumannya, ke telingaku, “aaah,,mmm,,”


Tangannya menjelajahi badanku, menyentuh kedua gunung kembarku. Di belainya dengan lembut, membuatku mendesah tiada henti


“aaah,,mm,, masss,,,uhh,,,” badanku sedikit menggeliat karena geli.


Bisa ku rasakan vaginaku mulai basah karena tindakan tadi. Tangan Rico, kemudian masuk ke dalam tank topku, menjelajahi punggungku. Seakan mengerti apa yang dicari Rico, ku miringkan sedikit badanku dan ku lumat bibirnya penuh nafsu. Rico pun membalas dengan penuh nafsu dan tidak ada 1 detik kait BH lepas. Ku rasakan tangan Nico langsung kembali ke badanku dan mmbelai langsung kedua payudaraku.


“aaah,,,uhhh,,,”

“Sayang,,, tank topny dilepas, ya” ujarnya dengan nafas tersengal karena penuh gairah.


Tanpa persetujuan dariku, lepaslah tank top dan juga BHku. Bagian atasku sudah tak berbusana. Rico langsung menikmati kedua payudaraku. Di remasnya payudaraku,,, membuatku menggeliat, mendesah,


“aaah,,sss…maass,,uhhh,,,,” Erangan dari mulutku tampaknya membuat Rico semakin bernafsu, dia kemudian mengulum dan mengisap pentil payudaraku,

“aaaahh,,,,ohhh,,,,,mmmm,,,” aku mengerang, mendesah, menggeliat sebagai reaksi dari setiap tindakannya.


Tangan kiri Rico membelai perutku dengan tangan kanan dan mulut yang masih sibuk menikmati payudaraku yang mengeras.


Ku rasakan tanga kiri Rico cukup kesulitan membuka celana jeansku. Ku naikkan pinggulku dan kedua tanganku berusaha membukan kaitan celana jeans dengan gemetar. Susah payah celana jeans itu akhrinya terlepas juga. Tanga kiri Rico tanpa membuang waktu langsung menyusup ke dalam celana dalamku, membelai vaginaku yang sudah basah,


“aaahh,,,maass,,aah,,teruus,,ssshh,,mmmmm”


Kurasakan Rico menekan klitorisku,


“aaahh,,,,” membuatku semakin mendesah dan bergetar.


Apalagi Rico masih mengisap puting payudaraku. Tidak lama kemudian ku rasakan seluruh badanku terasa kencang, vaginaku mengalami kontraksi dan aku menggeliat hebat,


“AAAHHH,,,,,,” sambil memegang pinggiran tempat tidur menyambut orgasme pertamaku.


Rico tampak puas dapat membuatku merasakan orgasme. Belum selesai aku mengatur nafas, Rico berada di antara kedua pahaku, dijilatinya kedua payudaraku, turun ke bawah, menjilat kedua perutku. Membuatku merasa geli penuh nikmat,


“Oooh,,mass,,” Seakan tau apa yang ku inginkan, kedua tangan Rico melepas celana dalamku.Cerpen Sex


Tampakalah vaginaku yang memerah dengan sedikit rambut halus di sekitarnya. Rico kemudian memainkan lidahnya di vaginaku. Rico menjilati, mengulum vaginaku, membuatku menggelinjang hebat dan ku rasakan kedua kalinya, adanya kontraksi, “aaaaahh,,,,”. Aku orgasme untuk kedua kalinya. Sensasi yang sangat menyenangakan.


Rico belum puas dengan orgasmeku tadi. Setelah dia membersihkan vaginaku, bisa kurasakan lidah Rico menerobos masuk dan menyerbu klitorisku. Nafasku semakin memburu dan dari bibirku a terus mengalir alunan desahan kenikmtan yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya.


“Aahh,, mas,,aah,,uuhh,,, eeenaakk,,mmm,,sss”


Aku sangat menikmati oral yang diberikan Rico. Kurasakan dorongan lidah Rico lebih dalam lagi ke dalam vaginaku, membuat cairan dari dalam vaginaku terus mengalir tanpa henti. membuat Desahan yang keluar dari mulutku semakin kencang. Semakin lama Rico memberikan rangsangan di dalam vaginaku, membuatku menggeliat dan mengerang semakin kuat. Kurasakan lagi vaginaku berkontraksi, dan aku pun orgasme.


Setelah orgasmeku reda, Rico dengan wajahnya yang basah dan penuh gairah menindih badanku yang sudah telanjang bulat. Rico mengulum bibir dan lidahku. Tangan kiriku kemudian menarik handuk yang masih menutupi bagian bawahnya. Membuatku merasakan penisnya menusuk perutku, membuatku semakin bergairah. Ciuman kami semakin basah. Mulut kami terbuka lebar, bibir saling beradu.


Lidah Rico dengan lincah menelusuri bagian luar dari mulut dan daguku. aku pun membalas kelincahannya. Lidahku membasahi mulut dan dagunya. Setiap kali lidahnya menyapu permukaan kulitku, kurasakan api hasrat liarku makin membesar. Lidah kami akhirnya bertemu. Aku makin bertambah semangat dan terus mendesah nikmat. Tanganku menelusuri seluruh bagian dari punggungku. Rico membelai kepalaku dan tangan kirinya meremas-remas pantatku yang bulat.Cerpen Sex


“aaahh,, mass,,,”


Rico tiba-tiba menghentikan cumbuannya,


“sayang… aku mencintaimu, aku ingin kamu seutuhnya” dan mencium lembut bibirku yang sudah basah.


Aku sudah terlalu dipenuhi gairah karena segala tindakan Rico. Hingga rasanya bicara aku sulit. Kulingkarkan kedua lengaku di leher Rico dan kuhisap kedua bibirnya dalam-dalam sebagai jawabanku. Aku ingin segera menanggalkan keperawananku dalam pelukan Rico.


Rico mengalihkan ciuman bibirnya keleherku yang putih, menciuminya, menjilatinya, membuatku semakin terangsang. Kurasakan penis Rico mengusap vaginaku, membuatku semakin bergairah, apalagi kedua payudaraku yang sudah sangat mengeras dimainkan oleh Rico. Jilatan Rico dari leherku terus kebawah hingga lidahnya menyentuh ujung puting susuku yang makin membuat aku mengerang tak karuan, Slot Online Terpercaya


“aaahh,,,oohh,,,mmm,,aahh”.


Sementara puting susuku yang satu lagi masih tetap dia pilin dengan sebelah tangannya. Kemudian tangannya terus kebawah payudaraku dan terus hingga akhirnya menyentuh permukaan vaginaku. Tak lama kemudian kurasakan penis Rico tenggelam di dalam vaginaku setelah susah payah karena vaginaku yang sempit.


“Uuuh,,,aarggh,,,,” ku rasakan nyeri yang sangat hingga menangis.


“Sakit ya, sayang… sabar, ya.. Ntar juga hilang kok” Rico menenangkanku, sambil mencium mataku yang mengeluarkan air mata.


Setelah kurasakan vaginaku mulai terbiasa dengan kehadiran penis Rico, Rico kemudian menggerakkan penisnya perlahan, keluar-masuk vaginaku. Semakin lama gerakannya semakin cepat dan membuatku mendesah nikmat.


Makin lama makin cepat, kembali aku hilang dalam orgasmenya yang kuat dan panjang. Tapi Rico yang tampaknya nyaris tidak dapat bertahan, semakin mempercepat gerakannya. Aku yang baru saja orgasme merasakan vaginaku yang sudah terlalu sensitif berkontraksi lagi..


“Sayaang,, aku sudah mau keluar, dikeluarin di mana?” tanya sambil terengah-engah.

“Di dalam saja, mass,,” Toh, aku juga dalam masa tidak subur. jadi buat apa dikeluarin di luar, pikirku.


Tak lama kemudian aku segera mengalami orgasme bersamaan dengan Rico. Ku rasakan semburan di dalam liang vaginaku yang memberikan kenikmatan tiada tara.


Rico kemudian merebahkan diri di sampingku dan memeluk erat tubuhku. Tubuh mungilku segera tenggelam dalam pelukannya. Tangan Rico dengan lembut membelai rambut panjangku, “Anggi sayang… Selamanya kita bersama ya, sayang.” dan ciuman lembut, romantis mendarat di bibirku.


“Iya, mas..” ku cium bibirnya lambat tapi sesaat. kemudian ku rapatkan badanku ke badannya.


Ku lihat jam di kamar menunjukkan pukul 01.00, mataku pun sudah lelah dan kami pun tidur dengan pulas.


Pagi menjelang, sinar matahari masuk ke dalam kamar melalu jendela dan membangunkanku. Ada sedikit rasa terkejut melihat wajah Rico karena baru pertama aku tidur dengan laki-laki. Tapi teringat kejadian semalam membuatku kembali terangsang. Perlahan, ku cium bibi Rico yang sedikit terbuka. Ternyata ciumanku membangunkan Rico yang kemudian membalas ciumanku dengan lebih bergairah dan menggigit telingaku.


“Selamat pagi sayangku, cintaku,,” ucapnya.

“Pagi,,,” ku cium lagi bibirnya dan tak lama kami pun saling mengulum bibir satu sama lai, dan memainkan lidah, menambah kenikmatan di pagi hari.


Karena ingin sedikit iseng, ku lepas ciumankuCerpen Sex


“Aku mandi dulu, ya…” belum sempat aku berdiri, baru duduk, Rico menarik perutku, menciuminya dengan lembut.


Membuatku menahan keinginan untuk meninggalkan tempat tidur.


“Nanti saja sayang..” Perlahan ciuman Rico dari perut naik menuju leherku, menjilatinya, membuatku mendesah nikamat, “aahh..mmm..”


Rico menjilati leherku dari belakang. Tangan kanannya meremas-remas payudaraku dan tangan kirinya menekan vaginaku. Ku rasakan jarinya masuk menyusuri liang vaginaku, memainkan klitorisku. Tak lama badanku pun menggeliat, pinggulku terangkat, dan orgasme pertama pagi itu datang.


Dengan lembut Rico memangkuku. Diletakannya aku di atas kedua pahanya. Kakiku melingkar di punggungnya. Kami pun berciuman dan Rico perlahan memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. Rico kemudian memompa penisnya, membuatku menggelinjang penuh nikmat. Sambil memainkan penisnya, Rico menikmati kedua payudaraku yang mengeras.


“aaah,,aah,,aahh,,” semakin lama, semakin cepat, dan aku merasakan vaginaku kembali berkontraksi.


Ku peluk kepala Rico dengan erat dan aku mengerang karena orgasme “Aaaaaaahhhh….” yang disusul dengan Rico yang juga mencapai puncaknya. Setelah itu kami bercumbu lagi beberapa saat kemudian baru mandi dan pulang ke kota meninggalkan seprei kamar yang basah karena cairanku dan Rico serta bercak darah pertanda hilangnya keperawananku.


Sebelum memulangkanku ke kos, kami mampir ke kos Rico untuk bercinta lagi. Sejak saat itu, setiap akhir minggu jika tidak ada kesibukan kami pasti check in di hotel untuk bercinta.


Kapan-kapan aku akan membagikan kisah cintaku yang lain bersama Rico tentunya. Kalau ceritanya kurang merangsang maaf, ya.. maklum baru pertama.

Cerita Sex Vaginaku

Cerita Bispak Nada4D - Cerita Sex Mertua Yang Perkasa, Didesak hawa nafsu tinggi dan segera disenggamai, aku tidak peduli lagi jika dikatakan pelacur oleh mertuaku seksi bernama Pak Handoko yang sudah berusia sekitar 57 tahun.

Sengaja aku meremas dan meraba pantat bulatku di depan Bapak mertuaku yang sedang duduk. Usaha ini adalah untuk menggodanya. Berlagak seperti pelacur yang sedang melayani pria hidung belang, aku benar-benar ingin segera disenggamainya.

“Puaskan aku Pak. puaskan menantu binalmu ini, please,” rengek ku memancing nafsu bapak mertuaku.

Dirudung nafsu tinggi dan tidak tertahankan lagi, aku gelap mata dan rasa maluku hilang. Aku bahkan dengan berani menyentil klitoris vaginaku, dan memasukan jari ke lobang surgaku.


Aku mendesah pelan dan menggelinjang enak, tanpa hiraukan mertuaku terus memandangku.


“Paaaak!!!.. Dina keluar!!..,” desah nikmatku saat cairanku keluar.

Cerita Sex Mertua Yang Perkasa

Tubuhku gemetar dilanda gelombang orgasme di hadapan pria yang notabene Bapak Mertuaku. Pak Handoko.


Aku sudah tak sanggup berdiri di hadapan Bapak mertuaku. Aku sandarkan tubuhku dengan sisa-sisa tenaga, sementara vaginaku masih berdenyut hebat. Aku bergegas ke kamar tidurku dan merebahkan tubuhku disana.


Aku tertidur cukup lama. Saat membuka mata secara perlahan, kutatap pintu kamar tidurku masih terbuka lebar. Aku terkejut.


“Ya tuhan. Apakah dia Pak Handoko?,” bathinku mempertanyakan sosok pria di belakang tubuh telanjangku.


Kuhirup nafas dalam-dalam dan mencoba mengendus aroma pria dikamar tidurku. Dari aroma khasnya, aku yakin jika dia Pak Handoko.


“Astaga…. dia benar-benar Bapak mertuaku…”


Entah karena gengsi atau malu, yang jelas aku tak berani menunjukkan kepada Pak Handoko jika saat itu aku sudah benar-benar terjaga. Satu hal yang bisa aku lakukan saat itu adalah, hanyalah berpura-pura tidur.


Sebuah tangan kasar menyentuh pantatku. Sentuhan sangat ringan seolah-olah dia juga takut jika aku akan terbangun. Sentuhan berubah menjadi rabaan. Dari rabaan berubah menjadi remasan.


Pelan tapi pasti, Bapak mertuaku mulai mempermainkan tubuh telanjangku. Awalnya Pak Handoko hanya mengusap pantat, mengelus paha, meraba pinggang hingga pada akhirnya, tangan mesum Bapak mertuaku mulai meremas-remas daging bulat pantatku. Diperlakukan tidak senonoh seperti itu, gairahku bangkit kembali.


Lendir vaginaku seolah tak pernah ada habisnya, ia akan selalu keluar setiap kali aku merasakan gelombang birahi sekecil apapun. Dengan terus berpura-pura tidur, secara inisiatif aku mencoba untuk membalas godaan Bapak mertuaku dan menggerakkan tubuhku seolah merasa agak terbangun.


Bukannya aku membuka mata dan menegur ketidak sopanan Bapak mertuaku yang saat itu sedang meraba-raba tubuhku, aku malah berpura-pura tidur lagi. Bedanya, aku mulai berani mendorong pinggulku ke belakang, sengaja menyajikan pantat bulatku ketangan Bapak mertua kesayanganku itu.


Tahu alam bawah sadarku merespon tangan mesum Bapak mertuaku, tak beberapa lama, aku mendengar gemerisik pakaian dan yang aku tahu, kasur tempat tidurku sedikit berguncang. Aku yakin jika saat itu Pak Handoko sedang melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Dan setelah telanjang bulat, kembali ia memposisikan tubuhnya searah denganku serta meletakkan tangan mesumnya di pantatku sambil berbisik pelan,


“Ohhhh Dina! Mengapa kamu menggoda bapak seperti ini nduk? Mengapa kamu tidak minta bapak secara langsung.


Apakah kamu ingin bapak senggamai vaginamu nduk?,” tanya Bapak mertuaku.


“Kalo memang itu yang kamu mau, OK nduk…. Ok… Bapak disini sekarang!… Bapak sudah siap melayani semua kebinalanmu…” tambahnya sambil terus mengusap dan meremas pantat bulatku.


Mendapat perlakuan mesum seperti itu, aku sudah pasti tak akan mampu menahan birahiku. Nafasku mulai memburu dan detak jantungku berdetak semakin cepat.


“Dina…! Dina Sayang…! Ya Tuhan… Tubuhmu begitu indah nduk… Tubuhmu begitu menggoda… Jika seandainya Budi bukan anakku, bapak rela nduk memperebutkan dirimu dengannya…. Bapak rela nduk menukar hidup bapak demi bisa mendapatkan kenikmatan dari tubuhmu… Bapak rela…”


Mendengar kalimat dari Bapak mertuaku, apa yang bisa aku katakan untuk ini? Aku merasa benar-benar tersanjung. Aku merasa benar-benar senang. Namun karena saat itu aku masih dalam kondisi berpura-pura tertidur, aku merasa tidak berani bangun. Tiba-tiba, tangan mesum Bapak mertuaku yang semula meremas-remas bongkahan pantat bulatku pindah, naik kearah pinggang, lengan dan akhirnya berhenti di samping payudaraku.


“Oooohhhh….” Rasanya begitu berbeda.


Pak Handoko kemudian meraba pelan daging payudara sebelah kananku. Dan dengan perlahan, beliau mulai meraba, mengusap dan meremasnya.


“Ohhh Tuhaaannn….!” Merasakan perlakuan mesum Bapak mertuaku, aku seperti merasa berada dipenjara. Aku bisa merasakan nikmat sentuhannya tetapi tidak bisa bereaksi lebih banyak.


ANEH melihat tubuhku yang masih terdiam, Bapak mertuaku semakin berani melakukan aksi mesumnya. Beliau dengan sengaja memajukan tubuh telanjangnya dan menempelkannya ke tubuh telanjangku dari belakang. ASTAGA aku bisa merasakan, batang panas yang sangat panjang menempel diantara celah pantatku. Batang yang aku tahu pasti sedang berusaha menunjukkan kebesaran dan kekokohannya pada diriku.Pasti Bapak mertuaku saat ini sudah sangat terangsang.


Terbukti dari batang penisnya yang sudah terasa begitu keras mendorong daging pantatku.


“Batang berkedut Pak Handoko mertuaku sudah ada di dekat celah kenikmatanku….”

“Sepertinya batang berurat Bapak mertuaku sudah siap untuk menjajah lubang kewanitaanku…”

“Sebentar lagi, batang panjang Bapak suamiku pasti bakal memuaskan vagina milik istri anaknya…”


Iklan Sponsor :


Tiba-tiba aku merasa serba salah. Di satu sisi, aku yang masih berpura-pura tidur dan sama sekali tak berani membuka mata, namun disisi lainnya, aku sangat mengingikan untuk dapat menanggapi semua kemesuman Bapak mertuaku.


“Dina…. Tubuhmu seksi sekali nduk… Bapak benar-benar tak bisa menahan nafsu…” bisik lirih Bapak mertuaku ke telinga kananku “Bapak benar-benar ingin menikmatin tubuh indahmu ini…” tambahnya lagi.


Aku tetap terdiam. Tetap berpura-pura tidur. Tiba-tiba, aku merasakan tangan mesum Bapak mertuaku menulungkupkan jemarinya dipayudara kananku. Meraba, meremas dan memilin putting payudaraku dengan gemas. Garusan dan usapan kulit tangan kasarnya di kulit payudaraku, membuat bulu kudukku merinding.


“Ooouuuhhhh….” Desah nafasku tertahan. Remasan tangan Bapak mertuaku terasa begitu nikmat.


Walau Mas Budi, suamiku sering sekali meremas dan memilin putingku, tapi entah kenapa rasanya sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Bapak kandungnya ini. Pak Handoko, Bapak mertuaku, terus meremas payudaraku dengan perlahan.


“Tetekmu benar-benar besar nduk… Sampai tak muat tanganku meremas daging bulatmu ini…” ucap Bapak mertuaku sambil sesekali mengecup lengan dan bahuku.


Perlahan, remasan tangan Bapak mertuaku dipayudara kananku semakin kuat. Sepertinya ia sengaja ingin membuatku terbangun. Namun. Entah kenapa, walau sudah jelas beliau mengajakku untuk melakukan perzinahan, aku masih benar-benar malu dan takut. Walau aku masih berbohong dengan berpura-pura tidur, tubuhku seolah mengkhianatiku.Cerpen Sex


Wajahku mulai bersemu merah, nafasku mulai menderu, payudaraku mulai mengeras, puttingku mulai mencuat, dan vaginaku semakin membasah. Semua karena perlakuan mesum Bapak mertuaku. Pak Handoko masih terus merangsang tubuh diamku. Berulang kali beliau meremas dan memilin payudaraku demi mendapat respon dariku. Hingga tiba-tiba tangan mesum beliau berpindah dari payudaraku dan meraba vaginaku.


“Sepertinya sudah ada yang keluar nduk,” kata Pak Handoko, mulai memilin-milin rambut kemaluanku sembari menggelitik klitorisku yang sudah mengeras.

“Nduk… Ternyata kamu sudah siap dientot ya…?” tambahnya lagi.


Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku hanya bisa terus berpura-pura tidur. Padahal, jika Bapak mertuaku tahu yang sebenarnya, aku sudah benar-benar sangat menginginkan tawaran beliau.


“Iya pak… iya… aku sudah benar-benar sange… aku sudah sangat ingin ditusuk oleh kontol besarmu… entot aku pak…” pintaku dalam hati. Kuhembuskan nafas panjang dan terus berpura-pura tidur.


Melihat responku, tiba-tiba Bapak mertuaku menusukkan salah satu jemarinya ke dalam celah vaginaku. Situs Togel Online Terbaik


“Hhhhssssshhhh Ooouuuhhh….” Teriakku tertahan dan secara reflek aku memundurkan pinggulku.


Akibatnya, pantatku menabrak penis Pak Handoko yang sudah berkedut hebat. Di depan vaginaku ada jemari tebal yang mulai mengocok vaginaku, dan di belakang pantatku ada batang raksasa Bapak mertuaku yang sudah siap menusuk. Maju kena, mundur kena. Malu, sungkan, geli, merinding, pengen, semua emosi bercampur menjadi satu. Emosi yang pada akhirnya hanya menyimpulkan satu kata. NIKMAT.


“Kamu sudah siap nduk…?” Tanya Bapak mertuaku lagi.

“Kamu terus tidur saja nduk…biar bapak yang bakal memuaskanmu….”

“OOhhh… jangan goda aku lagi pak… aku sudah nggak tahan lagi… Buruan pak… Buruan senggamai menantumu binalmu ini….” pintaku dalam hati sambil kembali menarik nafas panjang.

“Hmmm… Okelah nduk… bapak anggap kamu juga ingin segera merasakan kenikmatan bersama-sama… Siap-siap nduk… Bapak bakal memuaskan birahimu….”


Seolah mampu membaca kata hatiku, Pak Handoko segera menyelipkan telapak kaki kanannya di antara kedua kakiku, dan dengan perlahan ia mulai mengangkat betis kaki kananku keatas. Mencoba untuk membuka celah vaginaku lebar-lebar. Dan setelah betisku terangkat, ia segera memajukan pahanya dengan tujuan mengunci paha dan kakiku supaya tetap membuka. Cara yang unik sekali.


“Panas sekali…” kurasakan penis besar Pak Handoko yang tiba-tiba menempel pada mulut vaginaku.

“Memek kamu benar-benar hangat nduk…. Gemuk…” bisiknya pelan sembari mulai memajukan pinggulnya.


Dan dengan tangan kanannya yang masih mengobel celah vaginaku, tanpa kesulitan beliau menempelkan batang penisnya yang sudah mengeras panjang pada pembukaan celah vaginaku.


“Pasti memek kamu sempit sekali ya nduk…?” ucap Pak Handoko yang mulai memajukan batang penisnya.

“Inilah saatnya…. Inilah kenikmatan yang aku tunggu-tunggu sejak lama…”

“Ayo tusuk pak… tusuk memek anak menantumu… setubuhi istri anakmu…”


Kumundurkan lagi pantatku guna menyambut batang kejantanan Bapak mertuaku. cerpensex.com Kubuka kakiku lebar-lebar dan bersiap-siap merasakan kenikmatan darinya. Dan karena saat itu vaginaku sudah benar-benar membanjir basah karena cairan kenikmatanku, dengan sekali dorong, penis raksasa Bapak mertuaku itu dapat menguak liang tubuhku.


LOOOOHHHH…ternyata Pak Handoko tak segera melesakkan kepala penisnya ke dalam celah kewanitaanku. Beliau malah sengaja menggoda birahiku dengan cara menggesek-gesekkan batang penisnya di mulut vaginaku. Maju mundur, maju mundur, maju dan mundur. Berulang kali Pak Handoko menggaruk lubang kenikmatanku dari luar.


“Ssshh….Enak nduk…?” desah Pak Handoko pelan sambil terus memaju mundurkan pinggangnya. “Luar memeknya aja sudah legit gini… apalagi lubangnya ya nduk…pasti menggigit sekali…” tambahnya.


Tiba-tiba, Pak Handoko menggenggam telapak tanganku dan membawanya turun ke selangkanganku. Di tempelkannya tanganku pada selangkanganku dan meminta jemari lentikku untuk mengurut kepala penisnya setiap kali kepala penis itu muncul dari gundukan vaginaku. Dan dari situ, aku bisa tahu jika Pak Handoko memiliki penis yang istimewa. Merasakan ada suatu keanehan dibawah sana, aku yang masih berpura-pura tidur, mencoba untuk melirik kearah selangkanganku.


“Astagaaaa… ternyata penis Pak Handoko benar-benar panjang…” kagumku yang melihat batang hitam milik Bapak mertuaku berulang kali nongol dan tenggelam di balik tonjolan daging gemuk vaginaku.


Walau sudah melewati tubuh bawahku, aku masih bisa melihat kepala dan sedikit batang penis Pak Handoko.


Penis yang ada di bawah selangkanganku itu terlihat begitu mengkilap karena terbasuh oleh lendir vaginaku. Dan karena gesekan-gesekan batang berurat millik Bapak mertuaku itu, aku merasa vaginaku menjadi semakin gatal.


“Ooouuugghhh pakk… Jangan siksa aku seperti ini pakk… aku sudah nggak tahan lagi…” ucapku dalam hati.


Berulang kali, Pak Handoko menggodaku. Memaju mundurkan pinggul dan batang penisnya. Namun alih-alih mendapat kenikmatan akan sodokan batang berurat miliknya, aku hanya merasa gatal karena gesekan batang penisnya di mulut vaginaku.


“Aku harus bisa memasukkan penis itu ke dalam vaginaku…” Aku sudah kehabisan akal, tak tahu harus berbuat apa. Hingga tiba-tiba terbersit sebuah ide.


Untuk beberapa saat, Pak Handoko masih saja menggodaku, menggesek-gesekkan batang penisnya diluar mulut vaginaku. Membiarkan jemari tanganku mengurut kepala penisnya dari depan vaginaku setiap kali ia mendorong dan menarik batang penisnya.


“Lendir kamu banyak sekali ndukk.. ” bisik Pak Handoko sembari menarik penisnya mundur “Bapak suka memek yang becek seperti ini… bapak suka…” tambahnya lagi ketika akan memajukan penisnya.

“Inilah saatnya….” Girangku. “Ayo sodok pak… buruin majuin batang tititmu keras-keras…”

“Aku harus gunakan jemari tanganku yang masih berada di depan selangkanganku..”


Ketika Pak Handoko memundurkan pinggangnya, aku sengaja mengarahkan kepala penis Pak Handoko ke dalam mulut vaginaku. Dan benar seperti prediksiku, ketika beliau memajukan penis dan pinggulnya, jemari tanganku yang menahan penis itu supaya maju kedepan, secara otomatis membelokkannya kearah mulut vaginaku. HEEEEEGGGGGG….nafasku mendadak tersekat, jantungku mendadak terhenti dan kesadaranku mendadak memudar.


“SAAAAKKKKIIIITTTTTTT…….” Hanya satu kata itulah yang bisa aku rasakan ketika batang penis berukuran besar milik Bapak mertuaku secara paksa menerobos rongga kenikmatanku.


Secara reflek, karena menerima tusukan tajam dari penis Pak Handoko, tubuhku menggeliat maju kedepan. Berusaha menjauh dari hujaman batang penis Bapak mertuaku.


“Wwwoooooaaaaa…..” pekik Pak Handoko keenakan ketika tiba-tiba merasakan batang penis yang didorongnya maju ternyata berbelok keatas dan masuk ke dalam vaginaku.” Enak banget nduuukkkk….”

“GILAAA….” Desahku dalam hati “Sakit sekali…!!!”


Aku tak pernah tahu, jika sakit yang aku rasakan bakal seperti ini. Walau saat itu vaginaku sudah berlumuran lendir pelicin dan sudah siap menerima penetrasi sebuah penis, aku tak pernah tahu jika sakitnya akan benar-benar pedih. Sepertinya vaginaku yang sebelum-sebelumnya hanya menerima sodokan penis kecil milik mas Budi, belum terbiasa untuk dapat menerima batang super besar milik Pak Handoko. Dan aku tahu, jika aku ingin cepat mendapat kenikmatan perzinahan ini, aku harus sesegera mungkin beradaptasi dengan ukuran dari penghuni baru vaginaku.


“aku harus mampu menahan rasa sakit ini…” keluhku dalam hati. Mencoba untuk tak menghiraukan rasa pedih di vaginaku.Cerpen Sex

“Memek kamu benar-benar basah nduk…” kata Bapak mertuaku dengan nada keenakan. “LEGIT….”


Berulang kali, Pak Handoko mencium tengkuk dan pundakku dari arah belakang. Mencoba untuk memperlancar jajahan batang penisnya yang sudah setengahnya terbenam di dalam celah kenikmatanku. Dengan sedikit tekanan, Pak Handoko kemudian mulai menggerakkan pinggulnya maju dan menusukkan batang panjangnya ke dalam vaginaku. Karena aku sudah benar-benar merasa terangsang, rasa sakit itu perlahan menghilang dan berubah menjadi rasa geli nikmat.


Sekuat tenaga aku mencoba merenggangkan otot-otot vaginaku, membiarkan batang nikmat ini menggaruk kegatalan yang ada di dalam rongga kewanitaanku. Hingga setelah beberapa saat, tak ada lagi hambatan yang dirasa ketika batang penis Bapak mertuaku menusuk celah kenikmatanku. Mulai dapat meluncur dengan cukup mudah.


“Enak sekali memek kamu nduk…. jauh lebih enak daripada memek istriku yang sudah kendor…” puji Bapak mertuaku sambil menyentil-nyentil daging klitorisku. “Dan satu lagi yang kusuka dari memekmu nduk… Lendirmu benar-benar banjir…”


Ada sedikit kebanggaan dan keanehan yang kurasa dari ucapan Bapak mertuaku barusan. Bangga, karena pujian yang dilontarkan Bapak mertuaku akan kenikmatan dari jepitan vaginaku. Dan aneh, karena Bapak mertuaku berbeda dengan banyak pria lain yang menyukai vagina keset, ternyata Bapak mertuaku lebih suka vaginaku yang berlendir.


“Ya Tuhan, perzinahan ini terasa sangat nikmat…” ucapku dalam hati.

“Ayo pak… setubuhi aku… tiduri menantumu… hamili istri anakmu…” pintaku dalam hati sambil terus menyuguhkan pinggulku ke arah belakang.


Perlahan tapi pasti, gelombang orgasmeku mulai datang.


“Gila nduk… lendir memekmu sepertinya tak ada habisnya…” ucap Pak Handoko yang kali ini tangannya menggempur klitorisku dengan gemas.

“Memekmu wangi dan rasa asinnya bikin ketagihan….” Berulang kali, Bapak mertuaku mengobok vagina basahku, membasuh jemari tangannya dengan lendir pelumasku,


lalu mengisap bersih-bersih dengan mulutnya.


“Beda sekali dengan ibunya Budi…. Memeknya sepet… bikin sakit kontolku aja…”


Kembali aku disbanding-bandingkan dengan istri Pak Handoko. Dan kembali aku merasa tersanjung mendengar kalimatnya. Bapak mertuaku memang penuh dengan kejutan. Terbukti ketika aku sedang mencoba mendalami kenikmatan baru dari persetubuhan terlarang kami, tiba-tiba beliau mencabut batang penis panjangnya dari vaginaku.


“Memek kamu pasti rasanya enak sekali ya ndukk…?” tanyanya tiba-tiba.


Dengan cepat Pak Handoko memutar tubuhnya, membungkukkan kepalanya kearah selangkanganku dan menggantikan sodokan batang penisnya dengan lidah kasarnya.


“Enak sekali pak,”.


Baru kali ini aku merasakan kegeli-nikmatan dari sebuah lidah pria. Sebenarnya, sudah ratusan kali mas Budi meminta diriku supaya mau untuk menerima seks oral darinya, tapi karena aku merasa vagina bukanlah anggota tubuh yang pantas untuk dijilat, ratusan kali pula aku menolaknya. Rasanya aneh, risih, geli, jijik dan ngilu. Sama sekali nggak ada nikmat-nikmatnya. Namun, entah kenapa ketika melakukan seks oral dengan Pak Handoko, aku merasa begitu menikmatinya. Aku merasa benar-benar keenakan. Rasanya benar-benar berbeda jika aku melakukan dengan suamiku.Cerpen Sex


“Aku pengen terus bisa melakukan perzinahan ini… aku menikmatinya… aku tak ingin segera berakhir…”

“Ya Tuhaaannn… enak sekali…” desahku dalam hati.


Karena aku masih berpura-pura tidur, aku tak bisa banyak-banyak mengekspresikan diriku. Aku hanya bisa terdiam sambil menggigit bibirku keras-keras setiap kali aku merasakan kenikmatan dari jilatan lidah Pak Handoko. Lidah pria tua itu seolah menari-nari di dalam vaginaku, menggelitik setiap senti pori-pori vaginaku..


“Hhhhhhsss…..”


Sepertinya, Bapak mertuaku ini memiliki jutaan tehnik bercinta yang membuatku ketagihan. Dengan hanya mendorongkan lidah dan menjilat rongga vaginaku, tiba-tiba aku merasa seperti di ambang orgasme.


“OOOOOooooohhhhhhhh…..sssshhhhh……..”


Berhasil! Orgasmeku datang dan vaginaku memuncratkan cairan kenikmatannya. Tubuhku bergetar dan mengejang hebat. Aku tak sanggup berpura-pura tidur lagi. Aku sudah tak mampu menahan nafsu birahiku lagi. PERSETAN jika Pak Handoko menganggapku wanita murahan. Yang jelas, saat itu aku sudah benar-benar merasa ingin mendapat jutaan kenikmatan darinya. Aku yang semula diam, sekarang sudah berani memegang lembut kepala Bapak mertuaku yang sedari aku orgasme, masih saja berada di selangkanganku. Namun sekuat apapun aku berusaha menjauhkan kepala beliau dari selangkanganku, sekuat itu pula ia mempertahankan posisinya supaya tetap menjilati vaginaku di bawah sana.


“Memek kamu benar-benar enak nduk…. ” Ucap Pak Handoko sambil membenamkan mulutnya di liang vaginaku, menghisap kuat-kuat rongga kewanitaanku. Ia seolah tak membiarkan ada sedikitpun lendir orgasmeku yang terlewat olehnya.


“ENAK BANGEEEETTTT….”


Pak Handoko memang ahli merangsang wanita, karena beberapa saat setelah orgasme, birahiku mulai kembali lagi. Semua itu hanya ia lakukan dengan lidah ajaibnya. Dengannya, aku merasakan surga.


“Sekarang giliran bapak ya ndukk….” Ucapnya sambil tersenyum. “Bapak bakal ngehukum mantu bapak yang nakal…. Hehehehe….”


Dalam satu gerakan cepat ia kembali ke posisi semula, memutar tubuhnya, merenggangkan kakiku dengan pahanya dan menempatkan penisnya kearah pangkal pahaku.


“Kamu sudah siap ndukk…?” Tanya Pak Handoko yang mulai menggoda birahiku lagi dengan cara menggesek-gesekkan batang penisnya di luar mulut vaginaku.

“HHHhhhhhhhhh………….” Aku tak menjawab. Aku hanya bisa menghela nafas panjang.

“Siap-siap ya nduk… bapak mau masukin kontol besar bapak ke memek sempit menantu nakalnya….”


Karena vaginaku yang masih berlumuran lendir pelicin, dengan sekali dorong beliau mampu memasukkan seluruh batang penisnya ke dalam vaginaku. HHEEEEEGGGGGHHH…Sejenak, aku merasakan lagi rasa penuh dan sakit akibat sodokan penis besar Pak Handoko yang buru-buru itu. Namun, beberapa saat kemudian rasa sakit dan penuh itu perlahan sirna. Tergantikan oleh rasa gelijang geli dan nikmat yang tiada tara. Kembali aku merasakan keanehan pada tubuhku. Jika biasanya, setelah orgasme aku merasakan ngilu pada vaginaku dan menolak segala macam stimulus, namun kali ini, aku tak merasakannya sama sekali. Malahan yang ada, aku merasa begitu ingin segera merasakan sodokan-sodokan kasar Bapak mertuaku.


“Apakah aku sudah berubah menjadi wanita binal? Wanita pelacur yang selalu gatal akan siksaan penis-penis pria lain…?”


Sodokan sodokan batang penis Pak Handoko semakin dalam. Setiap kali beliau menyodok, semakin dalam pula gatal yang aku rasakan pada dinding vaginaku.


“Akhirnya nduk….Mentok….” ucap Bapak mertuaku yang tiba-tiba memeluk tubuhku dari belakang. “Bapak bisa memasukkan seluruh kontol bapak kedalam memekmu….”


Kami menggunakan “spoon position”. Posisi yang memungkinkan persetubuhan dengan cara memeluk dari belakang. Perlahan tapi pasti, Pak Handoko mulai menggerakkan pinggangnya, menusukkan batang raksasanya dengan gerakan super lambat. Saking lambatnya, aku bisa merasakan urat-urat yang menonjol di sekujur batang penisnya menggaruk dinding vaginaku.Cerpen Sex


Bersetubuh dengan Bapak mertuaku, aku baru sadar jika penis bisa memijit, aku juga baru sadar jika penis bisa menggaruk kegatalan dinding vagina, dan aku baru sadar jika penis bisa menjadi seperti vacuum yang menyedot serta mengisi kenikmatan di liang vagina wanita. Semenjak bercinta dengan Pak Handoko, aku merasa seolah kenikmatan darinya mampu membalik pemikiranku tentang bercinta dengan mas Budi. Benar-benar berbeda. Jika dibandingkan, bercinta dengan suamiku sekarang terasa begitu aneh.


Bersama suamiku, aku hanya merasa geli, capek, dan terkadang risih. Sehingga secara tak langusng, aku seolah menjadi kurang tertarik jika harus bersetubuh dengan penis kecil suamiku lagi. Bersama Pak Handoko dan batang penisnya yang sebesar botol air mineral, aku merasa berbeda. Ritme, tehnik, dan ukuran kejantanan mereka jauh berbeda, sehingga ketika bersama Bapak mertuaku itu, aku seolah tidak bisa menolak segala macam kenikmatan yang ia hujamkan kedaam liang vaginaku.


“Ssshh….. oooohhh…hhhsss….” Merasakan sodokan-sodokan penis Bapak mertuaku, mau tak mau mulutku mulai mendesah.


Acting pura-pura tidurku tak lagi aku hiraukan. Kenikmatan ini tak mampu lagi aku tahan dan bendung.


“Enak nduukk…?” Tanya Pak Handoko sambil terus menyodok-nyodokkan batang penis panjangnya pada vaginaku.

“Eehhhhmmmmm…. Ssshhhh….” Aku tak menjawab, hanya bisa mengangguk dan mendesah lirih..

“Gak usah pura-pura tidur lagi yang Dina sayang… ” ucap Bapak mertuaku sembari mengecup tengkuk leherku.” Bapak tahu kok jika kamu menikmatinya….”

“Ehhhmmmmm…. Oooouuugghhh….” Jawabku lagi.

“Mau ganti posisi nduk…?”

“SShhh… Oooouuugghhh….” Lagi-lagi aku tak menjawab, hanya menganggukkan kepalaku pelan.


Merasa sodokan nikmat penis Pak Handoko, aku sudah tak lagi peduli jika beliau tahu selama ini aku hanya berpura-pura tidur atau sudah terbangun. Bagiku tak ada bedanya. PLOOOPPP…suara yang terdengar ketika Pak Handoko mencabut penis panjangnya secara tiba-tiba dari vaginaku.


“Telentang ndukk…” pinta Pak Handoko singkat. Tampaknya Bapak mertuaku benar-benar yakin jika aku mau menuruti permintaannya.


Benar saja, aku menggerakkan tubuhku kekanan dan telentang pasrah, menunggu sodokan tajam penis Bapak mertuaku. Di hadapannya entah kenapa, aku selalu bisa pasrah, mirip boneka yang selalu menuruti perintah pemiliknya. Dengan perlahan, Pak Handoko mengangkat betisku dan meletakkannya di pundaknya. Kali ini ia sepertinya ingin menggunakan posisi misionaris. Pak Handoko menyetubuhiku dengan kekuatan penuh. Batang penisnya menghujam dengan cepat. Keluar masuk dengan diringi suara kecipak lendir kenikmatanku. Saking cepatnya, ada busa putih yang keluar dari vaginaku seiring keluar masuknya batang penis Bapak mertuaku. Situs Togel Online Terpercaya


“Bapak mau keluar nduk… bapak mau ngecrot…” bisik Bapak mertuaku dengan tak menghentikan sodokan tajam penisnya.


Tak beberapa lama kemudian, aku merasakan jika tubuh Bapak mertuaku mulai bergetar. Nafasnya menderu dan matanya terbalik, putih.


“Keluar dimana ndukk….?” Keluar dimanaaaaaaa….?” Tanya Pak Handoko padaku ketika ia akan mendapatkan gelijang kepuasannya.


Namun sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya, beliau keburu ORGASME.


“OOOOUUUUGGGGHHHHHHH DinaAAAA…..” teriak Pak Handoko lantang sambil menghujam-hujamkan batang penis besarnya sejauh mungkin ke dalam vaginaku.


Segera saja, aku merasakan 7 kali semprotan air mani panas di dalam dinding vaginaku, dan beberapa detik kemudian orgasmeku pun menyusul. Orgasme bersama Pak Handoko, aku merasakan klimaks yang benar-benar NIKMAT. Penisnya berkedut dengan hebat, seolah menggelembung dengan besar.


“Bapak puas nduk…Bapak benar-benar puas…” ucapnya padaku sambil tersenyum. “Makasih ya nduk… istri baruku…”

“Istri baruku….?” Aku tak percaya akan ucapan beliau barusan. Apa maksud dari kalimat “istri baruku…?”


Masih merasa terheran-heran akan perkataan Pak Handoko barusan, kembali ia melakukan satu hal yang selama ini tak pernah aku duga-duga. Tiba-tiba Pak Handoko memajukan wajahnya dan mencium mulutku. Beliau menciumku dengan bertubi-tubi, seolah tak akan ada lagi hari esok. Mendapat ciuman dari Bapak mertuaku, seketika aku menjadi bangga dan tersanjung karenanya. Pipiku merona dan aku pun mulai memagut mulutnya, membalas ciuman dari Bapak mertuaku.


“Istri baruku…. Istri baru Pak Handoko… Istri baru Bapak mertuaku…”


Berulang kali lalimat tersebut terngiang-ngiang di terlingaku. Aku yakin sekarang Bapak sudah jatuh ke dalam dekapanku. Dari cara menciumku, aku bisa tahu jika baginya, aku seolah wanita yang benar-benar ia inginkan. Setelah ejakulasi Pak Handoko menjatuhkan tubuhnya disampingku, tengkurap dengan wajah menghadap kearahku dan tangan yang memeluk perut rampingku.


Melihat Bapak mertuaku kecapean, aku hanya bisa kembali pasrah, telentang menghadap langit-langit kamar dan mencoba mengatur nafas. Kami berdua sangat lelah, tapi puas. Pak Handoko terus menciumi tubuh telanjangku.


Tangan yang semula terdiam di atas perutku mulai digerakkan naik untuk menjelajahi payudara besarku. Beliau mulai mengelus dan meremas payudaraku perlahan, mencoba menenangkankan hatiku karena perzinahan yang baru saja kami lakukan.


Kutatap pria tua yang ada di samping kananku, kuperhatikan dalam-dalam raut wajah kepuasan yang ia tampilkan. Sambil terseyum Pak Handoko mulai tertidur. Usapan dan remasan tangannya pada payudaraku mulai terhenti, dan suara dengkuran lirih mulai terdengar. Kuhirup nafas dalam-dalam sambil membisikkan sesuatu di telinganya.


“Aku ingin penis bapak tiap hari!!,” kataku sambil ciumi daun telingannya.

Cerita Sex Mertua Yang Perkasa

Cerita Bispak Nada4D - Cerita Sex Nafsu Birahi Seorang Istri, “Slurrrpp… Gede banget kontolmu paah… ” desah Anissa Rumina (22), seorang wanita mungil berpantat semok sembari mengoral penis suaminya yang berukuran ekstra besar, “Gak pernah bisa muat dimulutku pah…”

“SSSshhhh… Mulutmu memang paling nikmat mah…” Bisik Seto Maryadi (24) sambil terus memegang belakang kepala istrinya, berusaha memasukkan seluruh batang penisnya dalam-dalam.

“Gaaagg gaaagg gaaaaggg…” Suara yang keluar setiap kali penis besar Seto keluar masuk tenggorokan Anissa.

“Oooh enak banget tenggorokanmu mah…”

Cerita Sex Nafsu Birahi Seorang Istri

“Ssshhh… Entot aku sekarang yuk pah…” pinta Anissa sambil meremas lembut batang penis suaminya. Sepertinya ia sudah tak mampu gelombang menahan birahinya.

“Hehehe… sabar sayang…” Seto lalu merebahkan tubuh Anissa, melumat habis puting payudara istrinya yang kian mengeras dan memberikan gigitan-gigitan kecil. Perlahan, jilatannya berangsur turun ke puser, perut hingga ke kelubang kenikmatan Anissa yang berambut super lebat.

“Jembutmu Mah… Selalu bisa bikin aku sesak nafas…”

“Hihihi… Lebet banget ya Pah…”

“Habisan aku males nyukurnya sayang…”

“Hehehe gapapa mah… Lebet-lebet tapi enaaaakkk… Sluuurrrppp…”

Ohh… oooohh… Paaahh… Terus Ppaaah… Nniiiikmatnya jilatanmu sayang… Aaaahhhh….” erang Anissa yang semakin merasa keenakan karena jilatan dan tusukan lidah suaminya. “Yuk Pahh… Eentttot aku sekarang…”

Seto lalu beranjak dari vagina istrinya, dan menempatkan penis besarnya di lubang kenikmatan Anissa.

“Iya pah… Cepet masukin… Entot istrimu Pah….” pinta Anissa tak sabar.

Namun Seto sepertinya ingin menggoda istrinya, melihat istrinya menggelijang-gelijang seperti cacing kepanasan, ia hanya tertawa kegirangan. Ia malah menggesek-gesekkan batang penisnya maju mundur ke lubang vagina istrinya. Membuat penis besarnya mengkilat karena lendir kenikmatan Anissa.

“Paaahhh… Kok malah main-main siiihhh… Ayooo sayang… Tusuk memek Mamah…” raung Anissa sambil tak sabaran.

Karena Seto belum juga mau menusuk vaginanya, Anissa lalu bangun dari posisi tidurnya dan mendorong tubuh Seto hingga telentang. Dengan sigap ia lalu membuka pahanya lebar-lebar, meraih batang penis suaminya dan menempatkan ke arah lubang vaginanya. Pelan tapi pasti, Anissa mulai menduduki batang penis itu dan memasukkan batang penis Seto ke lubang vaginanya. Sedikit demi sedikit ia menurunkan pinggulnya. Walau sudah 2 tahun menikah dan hampir tiap hari Anissa melakukan seks dengan Seto, namun untuk hal penetrasi seks, vagina mungilnya masih saja merasa kesulitan untuk dapat menampung penis besar suaminya . Vaginanya terlihat penuh dan sesak. Tak berapa lama, batang panjang milik seto penis itupun tertalan semua. Terlahap habis oleh vagina mungil Anissa.

”Ohh… Paaahh…. Dalem banget… !” oceh Anissa mulai kesetanan, “kontolmu berasa nembus mulut rahimku… ”

“Hehehe… Goyang Maahhh…”

Tanpa dipinta dua kali, Anissa segera menggerakkan pinggul semoknya naik turun.

“OOooohh… enak banget sayang…” Erang Anissa, “Tempikku terasa penuh bangeeeett…”

“Enaaak ya Maaahh… Terus sayaaanng….”

Bak penyanyi dangdut, Anissa menggoyang penis Seto dengan hebat. Tak puas bergerak naik turun, ia pun menggerakkannya maju-mundur dan berputar. Ia menggiling batang kenikmatan suaminya tanpa ampun. Tak mau kalah, Setopun meremas payudara Anissa dengan gemas sambil memainkan putingnya yang semakin keras.


“Paaahh… Aku mau keluar pah..” Erang Anissa sambil mempercepat gerakan pinggulnya.

“Cepet banget Mah…?”

“Ya kalo dientot ama kontol sebesar punyamu.. Aku pasti cepet keluarnya sayang… OOooohhh…. ” Jelas Anissa, “Isep tetekku sayang…”

Melihat istrinya akan mendapatkan orgasmenya, Seto lalu menuruti permintaan Anissa. Dalam posisi duduk ia lalu menjilati payudara istrinya. Situs Togel Online Terpercaya

“Paah.. paaahh.. Aku keluaaaarrrr…” Jerit Anissa histeris. Seolah seperti naik kuda, Anissa menghajar batang penis Seto keras-keras. Menghempas-hempaskan vaginanya ke arah kemaluan suaminya, “Paaaahhh…. Enak baaaaaannngggeeeettttt…”

Saking enaknya, mata Anissa sampai terbalik, mulutnya menganga dan tubuhnya melengkung ke belakang. Sejenak, Seto mendiamkan Anissa. Ia membiarkan istrinya untuk menikmati kedutan enak di vaginanya.

“Hehehe… enak banget ya Mah…” bisik Seto.

“Hiya Paaah… Nyut-nyutnya nyenengin…” balas Anissa sambil tersenyum puas.

“Yuk lanjut sayang… “ajak Seto.

Tanpa melepas penisnya yang masih tertancap dalam vagina Anissa, ia lalu merebahkan istrinya.

“Kamu aja dl yang gerak ya pah… Aku capek… Hihihi…”

Melihat istrinya yang sudah siap kembali, Seto lalu mulai menggerakkan penisnya maju mundur.

“Sempitnya tempikmu maaah…. Wuuueeeenak banget sayang…” desah Seto sambil mulai mempercepat sodokannya.

Walau vagina Anissa baru saja orgasme dan mengeluarkan cairan kenikmatan yang licin, tetap saja penis Seto merasa kesulitan untuk keluar masuk dengan mudah. Vagina mungil Anissa benar-benar terasa menjepit.


“Kontolmu juga enak pah…” balas Anissa, “sodok yang kenceng… entotin tempikku sayang… Oooohhh ennaaakkk… ”

“Kata-katamu membuatku semakin nafsu sayang…” puji Seto sambil mengecupi bibir Anissa, “mirip pelacur murahan… tapi aku suka..”

“Hihihi… Kamu suka ya sayang…” goda Anissa, “entotin aku Pah…entotin pelacur binalmu ini…”

“Kamu memang nakal mah… nakal banget…”

Dengan nafsu yang menggebu-gebu, Seto semakin mempercepat sodokan penisnya. PLOK… PLOK… PLOK…suara tumbukan kelamin mereka berdua.

“Aaaauuuuhhh…. Sodok yang keras pah.. Sodok terus…” Racau Anissa lantang, “Entotin lebih keras lagi sayang….”

PLOK… PLOK… PLOK…Seto menggerakkan pinggulnya dengan brutal, tusukan demi tusukan penisnya terhujam ke vagina Anissa dalam-dalam. Membuat tubuh mungil wanita cantik itu terdorong ke depan, hingga menabrak sandaran tempat tidur.

“Ohhh Iya begitu sayang…. Terus… Entot yang keras…Ohhh… Ohhh nikmatnya kontolmu Paaahh…”

“Balik badan mah… Aku ingin ngentotim tempikmu dari belakang…”


Dengan nafsu yang menggebu-gebu, Anissa segera bangun dan memposisikan dirinya seperti anjing. Istri Seto ini membuka lebar kedua pahanya dan menunggingkan pantatnya tinggi-tinggi. Dengan satu tangan, ia menyibakkan bibir vaginanya lebar-lebar, memamerkan lubang kenikmatannya yang sudah berwarna merah dan berlendir.

“Entot tempikku pah…” pinta Anissa sambil mulai menusuk-tusukkan jemari tangannya ke dalam vagina.

“Woaahh… Seksi banget kamu sayang…” puji Seto, “benar-benar mirip pelacur… aku suka istri lonteku…”

PLAK… PLAK.. tangan Seto lalu menampar kedua pantat semok Anissa dengan keras.

“Aaahhh… Sakit pahhh….” erang Anissa.

PLAK… PLAK.. PLAK… PLAK..bukannya menghentikan tamparan tangannya, Seto malah berulangkali menapari pantat putih itu hingga berubah menjadi merah.

“Paaaahh… Saaaakiiiittttt…”

“Nungging yang tinggi mah… Aku udah nggak tahan”

Dengan kecepatan tinggi, Seto lalu menusukkan penisnya dengan kuat. Saking kuatnya, tubuh Anissa sampai terhempas menabrak sandaran tempat tidur.

“Aauuwww… Pahh… Sakiittt…

Mendengar rintihan istrinya, semakin membuat Seto kalap. Dengan sekuat tenaga Seto malah semakin menghajar vagina istrinya dengan lebih brutal lagi. Sekuat tenaga Seto menusukkan batang panjang penisnya dalam-dalam.

“Terima ini mah….lonte seperti dirimu memang pantasnya disiksa seperti ini…. ” teriak Seto sambil menarik rambut Anissa dari belakang, mirip seperti joki ketika memacu kudanya. “lonte sepertimu pantasnya disodok keras-keras..”.

DUK…DUK…DUK…suara yang ditimbulkan oleh persetubuhan Anissa dan Istrinya.

“Iyaaah…. iyaaahh… enak Paaah….enak banget” Anissa meracau tak karuan. “siksa aku paaahh… siksa terus lontemu ini…” tambahnya mesum.

Anissa sebenarnya adalah wanita baik-baik, seorang istri penurut dan juga pendiam. Namun semenjak ia menikah dengan Seto, perubahan mulai terjadi padanya. Terlebih ketika ia sedang bercinta, sisi lain darinya pun muncul dan menguasai pribadi kalemnya. Ketika bercinta, Anissa berubah menjadi seperti seorang pelacur murahan.

“Teruss paaahh….entot tempikku teruss..” desah Anissa yang mulai menikmati perannya sebagai pelacur, tangannya pun mulai meremasi kedua payudaranya yang bergantungan secara bergantian.

Melihat Anissa merasa keenakan, Seto mendadak menarik batang penisnya hingga terlepas keluar. Mendiamkannya sesaat, lalu menusukkan kembali dalam-dalam

“AAARRRGGGGHHHH… Paaaahhh…” Jerit Anissa.



“Rasakan ini mah… Rasakan kontol kerasku…” Lagi-lagi Seto mencabut batang penisnya, lalu menusukkannya dengan keras ke vagina Anissa.

“Oooohhh…. Iyaaa pah…. Terusss…. Lebih kenceng lagi nusuknya… Lebih kenceng lagi sayaaang…” pinta Anissa, alih-alih merasa kesakitan, istri Seto ini malah keenakan

Tiba-tiba, ketika Anissa sedang merasakan kenikmatan, Seto memasukkan jempol tangannya ke dalam lubang anus istrinya.

“Woooohhh…. Paaah kamu ngapain… ” Rintih Anissa sambil menengok kearah suaminya yang terus memompa penisnya, “Jangan kobel anusku sayaang… Joroookkk…”

“Jorok apanya? Wong rasanya enak begini kok jorok…” Ucap Seto sambil menjilati jempol yang bekas ditusukkan ke anus Anissa, “Aku jadi pengen nyodok bo’olmu Mah…”

“Iya sayang… Sodok ajaaaahhh… OOoohhh…” Racau Anissa, terlena akan kenikmatan baru, “Aaarrhhhh… Sayaaangg….Ennaaaak baaangeeeettt…”

“Tapi nggak sekarang yaaaa… Besok-besok saja…”

“Hoo’ooh sayaaang….” Jerit Anissa yang menjadi semakin liar

“Sempit banget tempikmu maaah…Legiitt…”

PLAAAK… PLAAAK… PLAAAKKK…lagi lagi Seto menampari pantat putih istrinya

“OOOhhhhh paahh… Aampuuunnn…” rintih Anissa “aku bener-bener mau keluar…”

“Tahan sayaaang… kita keluar bareeeng….”

“Ayooo paaahh Aku sudah nggak kuat lagi…” erang Anissa yang tak kuat lagi gelombang orgasmenya yang akan datang. Dengan mencengkeram payudaranya keras-keras istri Seto itu pun akhirnya berteriak lantang

” Aaku keeluuuar Paaahhh…”

“Kita keluar bareng sayang… ” ucap Seto tak kalah lantangnya “AARRRRGGGGHHHHH….”

Tubuh mereka berdua seolah terkena arus listrik ribuan volt. Saking puasnya, mata Anissa kembali terbalik-balik dengan mulutnya menganga. Orgasme yang ia rasakan kali ini lebih hebat dari sebelum-sebelumnya. Kali ini tubuh Anissa bergetar lebih hebat, sampai-sampai vaginanya menyemburkan lendir kewanitaannya. Terengah-tengah sambil mengatur nafas, tubuh Seto ambruk menimpa Anissa. Mereka terdiam sembari menikmati pijatan kelamin masing-masing. Menikmati orgasme pagi. Setelah itu, hening.


#####################

Tak jauh dari tempat Anissa dan Seto melampiaskan nafsu birahi mereka, terdapat pula sepasang suami istri yang sepertinya tak mau kalah.

“Memek kamu legit banget Dek…” Ujar Marwan Sudiro (32) merem melek, “bikin aku cepet keluar…”

“Tahan maaasss…. adek masih pengen disodok lebih lama lagi…” jawab Citra Agustina (26) sambil terus menjilati puting payudaranya.

“Aku udah ga kuat lagi Dek… Mas mau keluar…”

“Tahan Mmasss… Sodok memek Adek Mas… Teruusss…” rintih Citra, “Kamu harus bisa mengalahkan kehebatan Seto…”

“Husshh…” sewot Marwan

“Hihihi… Maap…” balas Citra sambil menutup mulutnya, seolah itu adalah sebuah keceplosan biasa.

“Kalo bahas-bahas dia, Aku nggak mau nerusin ah….” ucap Marwan sambil mencabut penisnya dari vagina Citra..

“Iya… Iya… Maa’aaafff… Yuk terusin Mas…”

Memang, sejak kepindahan Anissa dan Seto beberapa tahun lalu, membuat kehidupan seksual sepasang suami istri ini berubah drastis. Citra dan Marwan menjadi sangat menyukai seks. Entah karena mereka terangsang karena teriakan-teriakan Anissa dan Seto yang selalu terdengar jelas setiap kali mereka bersetubuh, atau memang karena nafsu mereka yang sangat besar. Namun, satu hal yang tak disukai Marwan kepada Istrinya adalah ketika ia membanding-bandingkan dirinya dengan suami Anissa.

“Aku nungging ya Mas…” ujar Citra sambil merubah posisinya, “Kamu sodok memek aku dari belakang…”

“Janji yaa nggak bahas dia lagi ketika kita beginian…”

“Hhihihi… Iya masku sayaaaang… Ayo ah… Buruan…. Sodok memek Adek lagi Mas…” ucap Citra sambil mulai meliuk-liukan pinggulnya, mencoba menarik perhatian suaminya. “ayo Mas.. Tancepin…” katanya lagi sembari menjilati puting payudaranya yang menggantung indah.

Melihat godaan istrinya, Marwan pun luluh. Terlebih melihat pantat putih dan payudara super besar istrinya yang bergelantungan. Buru-buru ia segera memposisikan penisnya di mulut liang senggama istrinya. BLESSSS…penis kecil Marwan masuk dengan mudah.

“OOhhhhh… Massss… Iya begitu…. Sodok terus Masss..”

Namun karena di sesi sebelumnya Marwan sudah akan orgasme, tetap saja, kali ini pun sepertinya Marwan tak sanggup lagi menahan orgasmenya lebih lama. Karena tak beberapa lama kemudian, tubuhnya mulai bergetar dan meremas pantat Citra kuat-kuat.

“Aku nggak kuat lagi dek…” Bisiknya pelan ” Aku mau keluar… ” Ucap Marwan

“Looh Mmasss.. Jangan dulu… Adek belum ngerasain enaknyaaa…”

“Suudaaah Deeek… Aku udah nggak kuat… AKU KELUUAAARRR….” teriak Marwan sambil ambruk ke depan menimpa tubuh Citra.

CROOT…CROOT…CROOT…enam semburan sperma hangat langsung menerobos liang vagina Citra.

“Yaaahhh… Masss… Kok keluar duluuaaannn…”ucap Citra kecewa, “Belum juga berasa Mas….Aku khan juga pengen ngerasain enak…”

Tak beberapa lama penis Marwan pun mengecil dan terlepas dari vagina Anissa, PLOP! Bersamaan itu pula, Marwan langsung menjatuhkan diri diri disamping tubuh istrinya, mencoba mengatur nafas sambil tidur terlentang. Dan seperti biasa, entah kenapa setiap selesai melakukan persetubuhan, Marwan selalu merasa sangat mengantuk. Perlahan, kelopak matanya mulai berat.


Dilihatnya jam dinding masih menunjukkan pukul 5 pagi.

“Capek sekali ya Dek… Sepertinya waktu masih cukup untuk istrirahat… Mas tidur sebentar ya Dek…” bisik Marwan sambil mengecup pipi Anissa. “Ntar sebelum kamu berangkat kerja, bangunin Mas ya…” “Yaaah… Mas… Kok malah tidur sih? Ayo lagi Mas…” pinta Citra “Aku khan masih belum dapet enak…”

“Istriku sayaaaang…. Mas udah capek…. Ntar sore aja lagi ya disambung lagi…”

“Tapi adek masih pengen Mas….”

DUK DUK DUK! tiba-tiba, terdengar suara dari sebelah rumah.

“Mas Seto sudah mulai lagi tuh…” Bisik citra “Yuk Mas… sodok memek adek lagi…”

“Bener deeeekk….. Aku sudah nggak kuat lagi…”

“Ah Mas ahh… Baru begitu aja udah lemes…” rengek Citra “Denger tuh… Tetangga sebelah saja sudah mulai lagi… ”

DUK DUK DUK

“Paaahhh… Ooooohhh….” Desahan suara Anissa kembali terdengar sampai balik tembok tetangga. “Ngenttttooooott kamu Pah… Ngeeentooottt… Enak bener sayang…. Sodok tempikku Paaahhh… Sodok tempikku dengan kontol kerasmu…’

“Mas Marwaaaann… Ayo mas…” Merasa tak ada respon, Citra segera menjamah batang kejantanan suaminya. Perlahan, jemari lentiknya mulai mengocok penis suaminya yang sudah telah tergolek lunak supaya dapat bangun kembali.

“Aku kocokin ya mas… Adek masih pengen ditusuk ama titit mas yang perkasa ini…” Puji Citra sembari berharap penis suaminya segera bangun dan berdiri keras.

Namun apa daya, sudah hampir 5 menit Citra mengocok penis suaminya, tetap saja penis itu tak juga bereaksi.

“Ayo Mas… Ayo bangunin tititnya… Sodok memek Adek lagi yaaa…” pinta Citra melas, sembari terus mengocok-kocok batang penis suaminya. “Nih Masss…. Biar tititmu cepet berdiri lagi… Isep tetek Adek mas…” Tambah Citra sambil menyodorkan payudaranya yang ekstra besar, berharap supaya suaminya dapat kembali ereksi.

Walau Citra sudah berusaha semaksimal mungkin, tetap saja penis Marwan ogah-ogahan.

“Udah ya dek.. Aku capek… Aku mau tidur dulu…”

“Aaah… Kamu selalu begitu Mas… Selalu aja menolak kalo Adek pengen lagi… Mas nggak pernah mikirin aku…” Gerutu wanita cantik itu, lalu ia berjalan kearah tepi tempat tidur ” Selalu bikin Adek tanggung…”

DUK… DUK… DUK… DUK… DUK… DUK… suara tembok sebelah, yang seolah menertawakan persetubuhan Citra dan Marwan. Sepertinya, pagi ini Citra harus melakukan kebiasaannya setiap kali ditinggal tidur Marwan. Masturbasi. Buru-buru ia beranjak dari samping Marwan dan duduk di kursi rias yang ada di dekat tembok pemisah kamar rumahnya dan rumah Anissa. Tangan kirinya menjilat dan memilin putting payudara, dan tangan kanannya mulai menggelitik klitorisnya.


DUK DUK DUK

“Teruuss Paaah… Teruuss… Lebih cepet lagi nyodoknya sayang… Lebih cepet lagi…” Pinta Anissa.

“Tempik istriku memang JUARAAA…” Teriak Seto kesetanan.

“OOhhh… Pah… Enaknya sodokanmu terasa sampai rahimku sayaaang…”

DUK… DUK… DUK… DUK… PLEK… PLEK… PLEK… PLEK… PLEK…

Semakin kencang suara hantaman sandaran tempat tidur ditambah suara tumbukan kelamin mereka semakin keras membahana, semakin membuat Citra iri.

“Nikmat banget maaahh… tempikmu hangat sekali… ” Teriak Anissa

“Ohhh terus sayang…Aku mau keluar lagi…” Jawab Seto

“Kita keluar bareng lagi ya maaaahhh….

“PppPPaaahhhhh… Aku keluar lagggiiiii….”

“Enak banget ya mas jadi Anissa…. Punya Seto “ ucap Citra lirih sambil terus menjilati dan memilin puting payudaranya, “Pasti memeknya selalu terpuaskan… Pasti ia bisa orgasme berulang kali…”

“Yaaahh…Mulai deh….” Sewot Marwan ketika Citra mulai kembali membanding-bandingkan dirinya dengan suami Anissa.

“Biarin… Kalo kamu ogah-ogahan kaya gini terus, bisa-bisa aku minta disodok titit besar Seto yang perkasa…”

“CITRA AGUSTINA…!”

“Kenapa mas…? Harusnya kamu sadar mas… Harusnya kamu malu…. Aku ga minta macem-macem kok Mas… Aku cuman pengen dimanjakan mas… Aku cuman pengen dipuaskan…” Kata Citra emosi,”Aku capek kalo kamu seperti itu terus Mas… Bentar-bentar keluar… Dikit-dikit muncrat…”

“……..” Marwan hanya diam, tak sanggup berkata apa-apa. Citra memang tak salah, dirinyalah yang seharusnya disalahkan. Memang sudah cukup lama Marwan menderita ejakulasi dini, namun ia tak pernah mengakuinya.

“Aku iri mas ama Anissa dan Seto, setiap pagi mereka bisa bersenang-senang. Mesra. Ngentot sana ngentot sini… Aku iri sama kehebatan kontol Seto”

“DEK… ” bentak Marwan.

“Kenapa mas? Kamu nggak suka kalo aku berkata seperti ini? NGENTOT…KONTOL…”

“CUKUP DEK… CUKUP… ”

PLAK…Tiba-tiba Marwan bangkit dari tempat tidurnya dan menampar Pipi Mulus Citra.

“KALO KAMU MEMANG MAUNYA SEPERTI ITU… SILAKAN… LAKUIN AJA YANG KAMU INGINKAN… SILAKAN SAJA KAMU CARI KONTOL-KONTOL YANG JAUH LEBIH BESAR… SILAKAN SAJA KAMU MINTA DIENTOT AMA KONTOL-KONTOL PRIA LAIN YANG LEBIH KUAT.. DASAR PELACUR TAK TAHU DIUNTUNG..” Raung Marwan Murka.

“Oke Mas… OKE… AKU BAKAL LAKUIN SEMUA ITU…” Jawab Citra dengan nada terisak sambil berjalan keluar dan membanting pintu kamar mandi

BRAK…

“Semua pasti akan baik-baik saja…” Ucap Marwan dalam hati, “Pasti dia akan baik-baik saja”

Sambil menghela nafas panjang, Marwan duduk termenung di tepi tempat tidur. Mencoba mengingat apa yang barus saja ia ucapkan kepada istri tercintanya.

” SILAKAN SAJA KAMU CARI KONTOL-KONTOL YANG JAUH LEBIH BESAR… SILAKAN SAJA KAMU MINTA DIENTOT AMA KONTOL-KONTOL PRIA LAIN YANG LEBIH KUAT…”

Seketika, rasa sesal muncul dihati. Konflik batin tiba-tiba muncul di hati Marwan.

“Bagaimana seandainya jika istrinya akan melakukan semua itu? Bagaimana jika seandainya ia benar-benar mencari lelaki lain? Bagaimana jika seandainya ia minta ditidurin pria lain?”

“Ahhh…. Dia nggak bakalan berani……”

“Tapi… Kalo misalnya….”

“Ah… Nggak mungkin…”

Memang, bagi orang plin-plan seperti Marwan, membayangkan semua pemikiran itu, membuat dirinya bingung. Namun satu hal yang membuatnya tambah bingung adalah ketika melihat organ kelelakian yang tumbuh di antara selangkangannya .Seiring pemikiran tentang kemungkinan Citra yang akan mencari lelaki lain untuk ia ajak menikmati keindahan tubuhnya, penis kecilnya mendadak bangun dan berdiri keras.Cerpen Sex


***

***


Hembusan semilir angin pagi meniup dedaunan yang lepas dari ranting, membawanya terbang terombang ambing ke segala penjuru arah. Sinar mentari berkilauan begitu indahnya, membawa kehangatan menembus awan. Menembus jauh ke bumi, hingga menyentuh kulit putih wanita jelita nan menawan bernama Citra Agustina.


Wajahnya yang cantik terlihat begitu muram. Sedari pagi, istri Marwan itu melamun sendirian di bangku teras rumah kontrakannya. Menatap kosong ke arah dedaunan yang beterbangan tertiup angin. Mata indahnya terlihat sedikit merona merah, sembab karena menangis.


“SILAKAN SAJA KAMU CARI KONTOL-KONTOL YANG JAUH LEBIH BESAR… SILAKAN SAJA KAMU MINTA DIENTOT AMA KONTOL-KONTOL PRIA LAIN YANG LEBIH KUAT…”


Kembali ia teringat ucapan suaminya beberapa saat lalu. Ucapan yang benar-benar menyakiti hatinya. Sepanjang pagi, berbagai macam pikiran mulai bersliweran di benak wanita cantik itu.


“Tak usahlah kamu masukkan hati perkataan Mas Marwan tadi Citra..” Ucapnya dalam hati, “Kamu sendiri sih yang memulai… Khan tahu sendiri, suamimu itu tak suka jika dibanding-bandingkan dengan orang lain… Mungkin dia berkata seperti itu hanya karena kesal akan segala permintaan anehmu…” Tambahnya mencoba menenangkan diri.


Disatu sisi Citra merasa bersalah kepada suaminya, namun disisi lain, ia merasa capek dengan segala kepribadian Marwan yang sering berubah-ubah.


“Sudahlah Citra, buat apa sih mempertahankan lelaki emosian seperti dia… Cari saja lelaki lain yang jauh lebih baik darinya… Lebih mapan… Dan yang paling penting, lebih perkasa… Hihihi…” Pikir Citra sambil membatin, “Ingat… Mas Marwan sudah memberi ijin…”


” TIIITT… TIIITT… TIIITT… TIIITT…”

“Mbak Citra yang cantik, gimana mbak? Kapan bisa bayar tunggakan rumah? Mbak telat bayar hampir 1 bulan loh…”


Seketika lamunan Citra buyar, isi pesan barusan semakin merusak suasana pagi harinya. Buru-buru Citra masuk kedalam rumah dan membangunkan suaminya yang masih tidur nyenyak.

“Mas… Bangun mas… Sepertinya kamu harus mencari pekerjaan baru. Semua perhiasanku sudah aku jual semua demi menutup kebutuhan hidup kita sehari-hari….” Omel Citra.

“Hooooaahhmmmm… Kenapa Dek?….” Tanya Marwan mencoba mencari tahu sebab istri cantiknya ngomel-ngomel di pagi hari.

“Pak Darjo minta duit kontrakan..”

“Sabar ya Dek… Mas masih belum ada duit… Kamu coba ulur lagi deh sampai minggu depan…”

“Ulur… Ulur… Ulur… Selalu saja pakai alesan itu…”

“Sini sayang… Duduk dulu disini….” Ajak Marwan supaya Citra mendekat. “Kamu Tenang saja ya… Nanti siang mas ada janji ketemuan sama pemilik tanah… Semoga bisa dijadikan obyekan…” jawab Marwan sambil mengusap rambut panjang Citra, “Nah kalau proyeknya GOAL, mas bakal lunasin semuanya…. Dan mas bakal beliin kamu semua barang yang kamu minta…” tambahnya lagi mencoba menenangkan emosi istrinya

“Yah… Semoga saja Mas… Aku udah malu mas kalo ditagih teman-temen… Masih belum sanggup buat melunasi hutang…”

“Hehehehe… Tenang saja sayang… Sekarang kamu bikinin mas kopi dulu ya… Mas mau siap-siap…”

“Bikin aja sendiri… ”

“Looohh….? Emang kamu mau kemana dek…?”

“Kamu nggak liat apa… Aku sudah telat ke kantor…”

“Ciieeeee… Masih ngambek nih ceritanya… Hahahaha…”

“Bodo….”


***


Sudah lebih dari 30 menit, Citra duduk di halte, menunggu bis langganannya yang tak kunjung datang. Semenjak motor kesayangannya dijual Marwan untuk menutupi kebutuhan rumah tangganya, hampir tiap pagi Citra harus berangkat dari rumah jam setengah 6 pagi supaya bisa tiba dikantor jam 8. Namun entah kenapa hari ini hampir semua kendaraan umum tak terlihat. Sekalipun terlihat, pasti sudah penuh terisi orang.


“Mungkin karena BBM naik kali ya mbak… ” Ujar seorang lelaki tua yang sedari tadi mencoba mengajak Citra bercakap-cakap, “Jadi bisnya pada ngambek… Hehehe…” Tambahnya lagi. Dengan mata melotot kearah payudara Citra, lelaki tua membetulkan posisi selangkangannya.

“Iya kali pak…” Jawab Citra tak peduli dengan apa yang lelaki tua itu sedang lakukan, “Dasar kakek-kakek cabul…”. Dengan cuek Citra terus menyantap sarapan paginya, sepotong lemper ayam yang baru saja ia beli di warung samping halte.


“Mbak orang kantoran ya? Pantes bajunya seksi sekali…” Tanya lelaki tua itu pantang menyerah. Melihat Citra yang sama sekali tak menggubrisnya, mata lelaki tua itu kembali jelalatan, memandang tubuh Citra dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Pahamu bener-bener mulus mbak… ” Bisik lelaki tua itu pelan sembari menggeser posisi duduknya kearah Citra. “Tetekmu juga besar sekali… Gimana kalau pagi ini kita jalan-jalan dulu? Yah sedikit bersenang-senang gitu…” Ucap lelaki tua itu sambil mencoba mengelus-elus paha putih Citra. “Aku bisa membayarmu kok… Kamu tinggal pilih aja cantik, mau dibayar pake uang atau pake kontolku ini…” Kata lelaki tua itu. Dengan santai lelaki tua itu mengambil tangan Citra yang bebas lalu mengarahkannya ke batang penisnya yang sudah menegang dari balik celananya.


Melihat ulah lelaki tua yang kurang ajar itu kemarahan Citra meledak-ledak.

“Heeeeh… BANGSAT… Pak Tua… Anda jangan kurang ajar ya… ” Bentak Citra keras sembari menarik tangannya dari genggaman lelaki tua itu. Saking kerasnya, orang-orang yang berada disekitaran halte seketika menengok kearahnya, “Saya bukan wanita murahan… Dan saya nggak tertarik dengan uang kotor atau titit busukmu itu…. PERGI…!”


Merasa mangsanya ternyata melawan dan merasa malu, lelaki tua itupun tak mau mengalah. Otak kotornya, segera memutar situasi. “Dasar LONTE… Wanita tak tahu diri… Semalam lo ngemis-ngemis minta dientot, minta kepuasan, minta uang… Eeehh… Begitu udah dikasih, sekarang malah belagak lupa. INGET… Semalam, lo ngentotin KONTOL ini, KONTOL ini yang muasin nafsu birahi lo… ” Balas lelaki tua itu berusaha menjatuhkan harga diri Citra. “Kalo lo mau minta uang lagi, jangan minta ama gw… Minta aja ama mucikari lo…” Kata lelaki tua itu sambil melangkah pergi.

“HEEEEII… BANGSAT… ” Teriak Citra makin marah, “SINI… KITA BELUM KELAR…”

“Gausah sok pura-pura deh mbak… Kalo jadi lonte ya lonte aja… Gausah jadi pembohong juga…” Teriak lelaki tua itu menutup pembicaraan dari kejauhan.


“Mimpi apa aku semalem… Sampe dikira pelacur gini… Ini pasti gara-gara baju sialan ini, orang jadi mengira aku wanita murahan.” Gerutu Citra sambil berulang kali menurunkan bagian bawah roknya, supaya tak banyak memamerkan paha mulusnya. “Sejak kapan sih baju-baju ini sudah pada kecil… Begitu Mas Marwan dapet duit, aku harus beli banyak pakaian baru…”


Sebenarnya, bukan baju Citra yang menjadi sempit, tapi tubuhnyalah yang semakin gemuk. Mungkin karena ia sering ngemil, tubuh yang dulunya kurus sekarang berubah menjadi semakin semok. Dan karena hal itu, terkadang ia merasa kesulitan untuk menutup semua aurat tubuhnya.


Memang, di kantornya Citra dituntut untuk dapat selalu tampil mempesona. Blouse plus blazer serta rok pendek dan heels, menjadi pakaian sehari-harinya. Jadi tak heran, jika ketika Citra menunggu bis, ia selalu menjadi santapan mata-mata mesum setiap lelaki yang melewatinya. Rambut hitam panjang, wajah cantik menawan, bibir tipis yang selalu terlihat basah, serta kulit putih yang mulus, selalu dapat membuat Citra seperti bunga diantara lebah, dikerubutin banyak lelaki. Terlebih ukuran payudaranya yang besar, pinggulnya yang semok dan kakinya yang jenjang, mampu menjadi senjata mematikan bagi setiap lelaki yang mendekat.


“Pagi mbak Citraaaa… ” Terdengar suara berat seorang lelaki dari arah belakang, ” Pagi-pagi udah PANAS aja mbak…”


Merasa ada orang yang memanggil namanya, Citra segera mencari tahu siapa pemilik suara berat itu, berharap bukan pria iseng lagi. “Ee… Eeeh Mas Seto…” Jawab Citra begitu tahu si pemanggil itu adalah suami Anissa, tetangga satu kontrakannya.


Tampan, tegap, berkumis tipis dan memiliki senyum menawan. Seketika, Citra merasa terpana melihat ketampanan suami tetangganya itu. Walaupun mas Marwan tak kalah tampan namun entah kenapa pagi itu pesona seto mampu membuat Citra melupakan suaminya.


“Kok belum berangkat mbak…? Tanya Seto lagi.

Sejenak, Citra menatap Seto dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambut jabrik berjambang, jakun besar, berjaket kain tipis dilapis kemeja, celana kain dan sepatu kulit. “Jadi ini pria yang selalu membuat membuat berisik dirumah tetangga… Jadi seperti ini tampang lelaki yang selalu membuat puas Anissa…?”


Melihat Seto yang sedang berada didekatnya, tiba-tiba Citra teringat akan permainan cinta Seto dan Anissa tadi pagi yang begitu mengganggu, teringat desahan orgasme Seto dan Anissa yang dapat mereka raih berulang kali, teringat betapa Seto mampu membuat Marwan Emosi karena selalu dibanding-bandingkan.


“SILAKAN SAJA KAMU CARI KONTOL-KONTOL YANG JAUH LEBIH BESAR… SILAKAN SAJA KAMU MINTA DIENTOT AMA KONTOL-KONTOL PRIA LAIN YANG LEBIH KUAT


Sekilas Citra mengingat kalimat kasar suaminya tadi pagi. “Oke Mas… Adek bakal lakuin semua itu…” Ucap Citra dalam hati. “Jangan sampai kamu menyesal…”


Sakit memang hati Citra ketika tadi pagi Marwan membentaknya dengan kalimat kasar seperti itu. Tapi, setelah berulang kali dipikirkan, apa untungnya bersakit hati melulu, lebih baik jika Citra menyikapi sakit hati itu menjadi hal yang lebih menyenangkan untuk dirinya. “Okee… Adek bakal cari kontol pria lain yang lebih bisa MEMUASKAN dahaga birahi Adek…”.


“Loh.. Kok malah senyum-senyum sendiri… ” Kaget Seto, “Mbak… Jangan melamun mbak… Haloo…” Sapa Seto sambil melambai-lambaikan tangannya ke wajah Citra.

“Ee… Ehhh.. Iya… Kenapa mas…?” Jawab Citra kaget.

“Jangan melamun… Disini banyak copet… ”

“Aaa… Apanya yang mau dicopet mas…. Wong aku orang yang nggak punya apa-apa…”

“Heeehh… Jangan gitu aah… Mbak masih punya banyak barang berharga loh…”

“Barang apaan mas…?”

“Itu…” Jawab Seto sambil menunjuk ke arah Citra dengan dagunya.

“Hayoooo… Matanya nakal yaaa…” Jawab Citra malu-malu, sambil berusaha menutup bagian payudaranya dengan blazer.

“Hehehe.. Bukan tetek kamu mbaaak… Maksud aku, mbak khan masih punya kecantikan dan tubuh yang indah… Bagiku itu tak ternilai mahalnya loh…” Puji Seto tipu-tipu, sambil meneruskan melirik asset terbesar Citra yang membusung indah.

“Ooooo… Kirain kamu nunjuk-nunjuk tetek aku… Hihihi…”

“Hmmm… Sebenernya iya juga sih… Hehehehe… ” Canda Seto, ” Habisan, cowok mana sih mbak yang ga tertarik kalau melihat tetek segede itu…? Apalagi yang punya cantiknya banget-banget-banget…”

“Aaaaah Mas jago gombal juga…”

“Ya Ampun mbak… Jangan panggil aku mas dooonk.. Kaya udah tua aja… ” Kata Seto basa-basi, “Panggil aku Seto atau Set aja…”

“Set…?”

“Iya, Set… Asal jangan panggil aku Setan aja…”

Hihihihii… Ternyata kamu lucu juga yaa…” Tawa Citra cekikikan.

“Omong-omong kok belum berangkat mbak..?”

” Iya nih… Aku lagi nunggu bis…”

“Oalaaah…. Kirain tadi nungguin aku… Hehehe…” Jawab Seto sambil bercanda, “Nggak bakalan dateng mbak… Hari ini supir-supir bisnya pada demo…” Jelas Seto, “Kalo mau, mbak berangkat bareng ama aku aja… Kantor kita khan dekat…”

“Hmmmm… Okedeh….” Merasa tak ada cara lain yang lebih cepat selain menerima tawaran Seto, akhirnya Citra menerima ajakan itu.


Melihat tingkah Seto yang easy going, membuat Citra seketika itu langsung tertarik. “Ternyata… Seto playboy juga…. Kita lihat, sejauh apa kenakalannya…”

“Bener nggak kenapa-napa nih kalo aku berangkat kerja bareng kamu gini…?” tanya Citra basa-basi, “Ntar kalo Anissa cemburu atau marah, jangan salahin aku yaa…”

“Yeee… Dia Anissa nggak bakalan marah mbak…. Wong sekarang dia sedang di terminal, mau pulang kampung… Jadinya ya nggak bakalan tahu,,, Hehehehe”

“Huuuuu… Dasar…. ” ucap Citra, “Aku duduknya sambil peluk badan kamu ya… Takut jatuh… ”

“Jangankan cuman minta meluk mbak… Mau minta yang lain juga pasti bakal aku kasih kok..Hehehe…

“Bener nih…? Nanti kalo tau aku mintanya apa… Bakal capek loh… Hihihi…”

” Enak kali mbak kalo capek-capek itu…. Bikin sehat… Hehehehe… Yuk naek..”Cerpen Sex

Dengan lincah, Citra segera menempatkan pantat semoknya diatas jok motor Seto. Kemudian ia segera memeluk pinggang Seto kuat-kuat, sengaja membiarkan payudara besarnya tergencet ke tubuh Seto.

“Waduh…. Empuk bener…” Celetuk Seto.

“Eeehh… Empuk apanya Set…? ”

“Ituloh mbak… Apem yang dijual deket kantor aku, pasti jam segini udah pada mateng…Hehehe..” canda Seto berusaha mengalihkan percakapan. “Pegangan yang kenceng mbak… Aku mau jalan…”

“Yeeee… Ngeles nih yeee…Hihihi… Bilang aja yang empuk tetek aku… Hihihi…”

Meladeni cara becanda mesum Seto, entah kenapa Citra merasakan sebuah kesenangan tersendiri. Sebuah kesenangan yang pernah ia rasakan dulu, ketika ia dan Marwan masih pacaran. Sepanjang perjalanan, senyum lebar selalu tersungging di wajah cantik Citra. Ia sama sekali tak pernah menyangka jika hari ini ia bisa berdekatan dengan Seto. Bahkan bukan hanya berdekatan, melainkan bisa memeluk tubuh suami tetangganya yang sering ia bayangkan ketika sedang bermasturbasi.


“Mbak… Kok senyum-senyum sendiri? Jangan jadi orang gila dulu ya mbak… Kita khan nggak ke arah Rumah Sakit Jiwa.” Kata Seto sembari melirik Citra dari kaca spion motornya.

“Hihihi.. Biarin… Mulut-mulut aku ini…. Weeeekk…” jawab Citra sambil menjulurkan lidahnya.

“Hehehe… Eh mbak… Boleh jujur nggak…”

“Kenapa Set..?”

“Makasih ya mbak sudah mau berangkat bareng aku…”

“Loh kok…?”

“Iya mbak… Sebenernya aku mengagumi mbak loh… ”

“Megagumi gimana??”

“Beneran.. Mbak itu cantik, pinter, jago masak, ngomongnya lembut… Beda banget ama Anissa…” Ujar Seto tiba-tiba membanding-bandingkan Citra dengan istrinya. “Mbak juga seksi, putih, semok trus….”

“Kok diem…? Teruuuussss…?”

“Teteknya geeddeeee baaangeeeet… Bikin aku selalu adem panas mbak… Hehehehe…” Asal tau aja ya mbak… Gara-gara sering mbayangin kamu… Anissa tuh yang aku jadikan pelampiasan… ”

“Maksudnya? Pelampiasan gimana Set…”

“Hehehehe… Tapi mbak janji jangan marah ya… ”

“Hmmmm… Iyadeh. Aku janji nggak bakal marah…”

“Jadi mbak… Karena keseringan ngeliat kecantikanmu, keseksianmu, kemolekanmu… Aku jadi sering ngebayangin kamu… Dan ujung-ujungnya, aku jadi sering deh, ngewein Anissa sambil ngebayangin Anisaa itu kamu… Hehehe…”

“Owalaaaaaahhh… Daaaasssaaaar geniiiiiitttttttttt….” teriak Citra tiba tiba sambil memberi pelajaran ke Seto karena telah berbuat mesum. Dengan kekuatan penuh, Citra memberikan pelukan keras ke punggung Seto, ia menghukum lelaki cabul itu dengan memberinya sengatan birahi.

“Hehehe… Makasih ya mbak… ”

“Idiihh…. Ada gitu ya orang mesum kaya kamu itu… “Ejek Citra. “Eh tapi-tapi… Gimana rasanya begituan sama istri sambil ngebayangin orang lain..pasti lebih enak ya? Hihihi…” Tanya Citra penasaran.

“Enak sih mbak… Cuman bakalan lebih enak kalo beneran bisa ngajak ngewe orang yang dibayangin itu…Hahaha… Pasti enaknya banget banget banget…

“Yeeeeeee…. Maunya…. Awas loh sampe ketahuan yang punya… Hihihi…”

“Yaaa… Khan mas Marwan nggak ada disini mbak… Hehehe…”

Berkali-kali mendengar Seto menyebut nama suaminya, membuat perasaan aneh yang sedari tadi ada dihati Citra menjadi semakin terasa. Perasaan dilecehkan oleh mas Marwan tadi subuh, seolah mengubah Citra yang biasanya tabu meladeni ucapan-ucapan mesum orang lain, menjadi sosok yang haus akan kenakalan.


“Dasar cabul…” kata Citra sambil kembali mencubit pinggang Seto.

“Addduhhh… Pedes bangeeeett..” Jerit Seto spontan.

“Sudah punya istri cantik, masih aja ngegodain istri orang…”

“Hehehe… Namanya juga usaha mbak…”

“Emang kamu kurang puas ama Anissa Set…?”

“Ya khan kalo punya dua istri bakalann lebih puas lagi mbak… Hahahaha….”

“Hihihihi… Kaya kamu kuat aja ngehadepin dua istri Set…? Secara tiap pagi main mulu…”

“Loh… kok mbak bisa tahu…?”

“Hihihi… Sekomplek kontrakan juga tahu kali Set… Wong kalian kalo begituan berisiknya minta ampun… ”

“Hehehe… Habisan enak sih mbak…” Jawab Seto cengengesan. “Ga kebayang gimana rasanya punya dua istri… Apalagi kalo nambah istrinya kaya mbak… Biiiuuuhhh… Genjot teruuuusss…”

“Meesssuuuummm…” Ucap Citra lagi-lagi mencubiti tubuh Seto.

“Hahahaha… Ampun mbak ampun… Hahaha…” Kata Seto sambil tertawa-tawa kegelian. “Udah-udah Mbaaakk… Ampuuunnn”

“Bisa-bisanya ya kamu ngebayangin mbak jadi istri kamu…”

“Habisan salah mbak sendiri sih jadi orang kok cantik banget… Ya sudah tak ada jalan lain… Mbak harus terima saja resikonya…” gombal Seto, “Ga kebayang puasnya mas Marwan seperti apa… Pagi dikamar, siang diruang tamu, sore didapur, malem dihalaman belakang… Pasti dia puas banget ya mbak… Hehehe…”

“Hei hei hei… Nyetirnya tuh lihat jalan… Jangan merem-merem terus…” Tegur Citra.

“Hahaha… Ngobrol ama mbak tuh bikin adem panas… Bikin aku jadi…”

“Horny…?” potong Citra, “Pantesan keras banget jendolan celananya…..” tambah Citra tanpa malu-malu lagi.

“Jendolan apaan mbak…?”tTanya Seto pura-pura nggak tahu.

“Jendolan yang ini niiiihhhh……..” jawab Citra sambil meremas selangkangan Seto.

Entah keberanian darimana, jemari lentik Citra tiba-tiba meremas batang penis lelaki yang bukan suaminya itu. Dan seketika itupula, Citra menyadari jika apa yang ia remas bukanlah batang biasa.

“Astaga besar sekali….” Batin Citra dalam hati


###########################

Dikantor, Citra sama sekali tak dapat berkonsentrasi dengan apa yang sudah menjadi kerjaannya. Beberapa kali ia salah menekan nomor telephon, salah mengetik proposal, salah memphotocopy dokumen, salah memasukkan garam ke dalam teh, bahkan Citrapun salah memesan menu makan siang. Semua yang ada di otaknya hanyalah berisikan senyum Seto, sosok Seto dan penis Seto.

” TIIITT… TIIITT… TIIITT… TIIITT…”

“Kalo kerja jangan ngelamun mulu – Seto”

Mendadak Citra menerima sebuah pesan dari Seto, padahal sepertinya ia tak pernah memberikan nomor telephonnya ke Seto.

“Aku dapet no.hapemu dari Anissa. Makasih ya mbak buat TETEK PAGInya, bikin aku jadi semangat” Ucap Seto ceplas-ceplos lagi.

“Dasar mesuuuuuummmm ” balas Citra “Semangat apa horny…?”

“Hahaha. Gimana nggak horny mbak, kalo sepanjang perjalanan tadi aku bisa ngerasain empuknya tetek kamu mbak” balas Seto santai. “Kena pungung aja aku udah berasa enak, apalagi kalo kena remes?”

“Sakit dong kalo diremes.Hihihi… Sumpah…. Kamu bener-bener mesum Set….” Ledek Citra, “Heran. Kok Anissa bisa betah ya punya lelaki cabul kaya kamu. Isi otaknya begituan mulu. Kaya ga ada cowo lain aja. Hihihi…”

“Yaaah. Kamu juga kalo udah kena sengatanku, pasti bakal lupa ama suamimu mbak. Hahahaha…”

“Yeee. Emang kamu kalajengking. Pake nyengat-nyengat segala…”

“Hehehe.Eh iya mbak, bagi photomu donk” pinta Seto, “Lagi semangat nih”

“Heeeehh. Buat apa? Nggak ah. Ntar malah dipake buat yang nggak-nggak”

“Nggak-nggak gimana mbak?”

“Hihihi. Pake pura-pura nggak ngerti segala. Kamu minta photoku pasti mau dipake buat olahraga tangan khaaan”

“Owwww.Maksud kamu coli Mbak?Hahahaha.Tau aja”

Tiba-tiba, selintas pikiran nakal terbersit di benak Citra, dengan cepat Citra segera bersolek, lalu mengangkat handphonenya dan mengambil beberapa gambar dirinya. Ia sengaja mengambil gambar ketika sedang tersenyum manja, menggigit bibir, dan menjulurkan lidah nakal..

“CKLIK CKLIK CKLIK”

Sejenak, ia melihat beberapa hasil jepretan amatirnya. Lumayan bagus juga. Kirim

“Wuih. Cantik bener bidadariku.Bibirnya seksi abis” Kata Seto girang.

“Tuh, pelototin aja sampe puas. Anggep aja buat bayaran tadi pagi”

“Hehehe. Makasih ya Mbakku sayang. Langsung ngaceng nih.”

“Udah sana buruan ngocok kekamar mandi.Puas-puasin deh….”

“Hehehe. Makasih ya mbakku saayaaanng”

Tahu jika photo dirinya ketika senyum saja bisa membuat orang lain bernafsu, membuat Citra semakin tenggelam dalam permainan mesumnya. Lagi-lagi Citra mempunyai pikiran nakal, jauh lebih nakal. Buru-buru ia melepas beberapa kancing atas kemejanya, lalu memamerkan sedikit kain beha beserta gundukan payudaranya .


“CKLIK CKLIK CKLIK” tanpa merasa malu lagi, Citra segera mengirim lima photo seksiny.

“Ini sedikit bonus buat kamu Settt :* ” Kirim Citra sambil menambahkan icon kiss dalam pesannya.

“WUAAHHH. Busyeeett. Gede banget tetek kamu mbak. Putih. Sampe uratnya keliatan” Ketik Seto kegirangan, “Kalo gini mah aku bisa langsung muncrat.”

“Hihihi… Awas loh, ngocoknya jangan kenceng-kenceng. Nanti malah patah. Hihihihi.”

“Hahaha. Sialan. Jadi pengen ngeremes tetek kamu mbak” Ketik Seto makin mesum.

“Remes aja. Itu khan udah ada di hape kamu”

“Sialan…. Maksud aku ngeremes punya kamu beneran.”

“Hihihi… Sini aja kalo mau…” Godaku.

Tiba-tiba, sebuah gambar masuk ke dalam handphone Citra. Sebuah gambar yang seketika itu juga, membuat jantung Citra berhenti berdetak.

“Titit Seto….” ucap Citra dalam hati. “Besar banget….”

Dengan seksama, Citra mengamati gambar yang terpampang jelas di handphonenya. Berulangkali ia memperbesar gambar itu, menikmati setiap pixel penis Seto sepuas-puasnya. Penis itu begitu besar, dan panjang. Berwarna coklat tua dengan urat-urat yang bertonjolan di sekujur batangnya. Kepalanya begitu besar, berwarna merah kehitaman dengan kulit yang begitu mengkilap. Kantung zakarnya juga sangat besar, menggelantung panjang dan memperlihatkan dua buah telur yang begitu menggiurkan untuk diremas. Mendadak, puting payudara Citra mengeras dan vaginanya berdenyut. Sepertinya wanita cantik itu ingin melakukan masturbasi. Ia sudah tenggelam dalam imajinasinya, dan imajinasi itu butuh pelampiasan. Buru-buru, Citra beranjak keluar dari area meja kerjanya dan memeriksa seluruh teman kerjanya.

“Bagus… Semua orang sepertinya sedang istirahat makan siang… Aman…” ucapnya lega.

Setelah itu ia kembali duduk dan mengamati layar handphonenya. Karena posisi meja Citra ada di bagian depan kantor, jadi ia bisa tahu jika seandainya ada orang yang mendekat. Dengan cekatan, ia lalu menurunkan tangannya ke bawah. Masuk kedalam rok dan mulai mengusap bibir vaginanya yang sudah membanjir basah dari luar celana dalam.

“Ooohhh… Enak bangeeeett..” desah Citra sembari terus meremas puting payudaranya dari balik kemeja, “Sssssetoooo….. Andai kamu jadi suamiku…”

Karena kantor sepi dan nafsunya sudah memuncak, kenakalan Citra pun semakin menjadi-jadi. Buru-buru ia menaikkan Ujung rok pendeknya lalu memegang tepi celana dalamnya.

SET…SET…SET. .Dalam satu gerakan cepat, ia segera menurunkan celana dalam itu dan meletakkannya di dalam laci meja kerjanya. Setelah itu, Citra pun melepas blazernya dan meraih kaitan branya dari belakang punggung. CTEK…gerakan tangannya sungguh gemulai, ia melepas semua tali beha yang mengikat payudaranya, lalu menariknya keluar dari bawah kemeja. Dan seketika itu, payudaranya yang berukuran besar langsung jatuh ke bawah, menggelantung manja dengan santainya.


“Fiuuuh… LEGA…” ucap Citra setelah berhasil melepas semua pakaian dalamnya.

Sekarang, walaupun dari luar Citra terlihat masih menggunakan kemeja dan rok kerjanya, namun di dalamnya, ia benar-benar telanjang.

“Mesum sekali kau Citra Agustina… ” batinnya sambil kembali mengelusi payudaranya dari luar kemeja kerjanya.

“Sssshhhhh… Setoooo…isep tetek aku Sseeeet…”

Perlahan tapi pasti, darah birahi Citra semakin panas, hingga desahan dan erangan pun mulai keluar manja dari bibir mungilnya. Membuat siapapun yang mendengarnya dijamin bakal bernafsu.

“Ooouuuhhh…Gigit puting aku sayang…”

Dan benar, tak jauh dari tempat Citra yang sedang asyik bermasturbasi, ada sesosok lelaki yang juga tak kalah mesumnya, sedang mengawasi istri Marwan itu dari balik persembunyiannya. Matanya sama sekali tak berkedip, mulutnya menganga dan tangannya mengocok batang penisnya yang telah tegak berdiri. Sepertinya nafsu yang melanda diri Citra sudah terlalu tinggi sehingga ia lupa, (atau tak peduli?) jika masih ada orang lain yang masih berada di kantor. cerpensex.com Pak Utet adalah seorang cleaning service yang sudah bekerja belasan tahun di kantor yang sama dengan Citra. Karena kantor itu adalah kantor kecil, disana ia juga bertugas sekaligus office boy yang membantu pekerjaan karyawan yang ada disitu. Pak Utet juga terkenal sebagai seseorang yang pendiam. Ia suka bekerja dalam diam dan tak ada yang mengetahui kapan ia bekerja, tahu-tahu lelaki tua itu sudah meyelesaikan apa yang semua karyawan minta. Selain itu, jarang sekali pak Utet terlihat mondar mandir, sehingga wajar jika Citra tak mengetahui pak Utet yang masih ada di kantor. Di mata Pak Utet, Citra adalah seorang wanita baik-baik. Seorang wanita profesional yang sama sekali tak mau terlihat nakal atau murahan. Wanita santun yang tak pernah bisa membuat dirinya berpikiran macam-macam. Namun, entah kenapa, beberapa waktu belakangan ini, Citra berubah menjadi seseorang yang baru. Seseorang yang suka menggoda, genit dan suka bercanda mesum. Ditambah lagi, akhir-akhir ini Citra juga sering bersolek dan berpakaian seksi sehingga semakin menambah daya tariknya dalam menjerat lelaki. Sesekali, Citra ke kantor dengan memakai dress dengan bahan yang tipis tembus pandang, sehingga membuat kulit putihnya beserta bra dan celana dalamnya terlihat menerawang. Sesekali juga, Citra datang dengan rok mini atau blouse berbelahan dada rendah, memamerkan kaki mulus dan payudara besarnya. Melihat perubahan seperti itu, mau tak mau membuat Pak Utet menyerah juga. Ia mulai membayangkan segala hal mesum ketika Citra ada di dekatnya. Hingga suatu hari dijam makan siang, terjadi hal yang cukup menegangkan. Ketika pak Utet sedang sibuk membesihkan ruang meeting yang baru tadi pagi dipakai direksi, ia mendapati Citra yang sedang mendesah-desah keenakan. Walau hanya dilihat dari belakang, Pak Utet tahu jika Citra sedang meremasi dadanya yang besar dan padat berisi. Bahkan sesekali, Pak Utet melihat Citra menjilati puting payudaranya dengan gemas. Kebetulan, ruang meeting yang ada di belakang meja kerja Citra menggunakan pembatas kaca yang dilapisi kaca filem satu sisi. Selama Pak Utet tak menyalakan lampu, orang dari luar ruangan tak akan dapat melihat ke arah dalam sama sekali.

“Ohh Seto… Isep tetekku Set..” bisik Citra lirih sambil meremas dan mencubiti payudaranya. “Iseep… Terus sayang… Isep yang kenceng… Sluuurpp… Nyam… Nyammm…. ”

Suara lidah Citra begitu seksi. Ia terus menjilati kedua puting payudaranya yang besar secara bergantian.

“Ssshhh… Terus sayang… Isep teruuusss..” Erang Citra keenakan, seolah sedang melakukan persetubuhan yang sebenarnya, “Ooohhh.., Iyak teruuussss…”

“Buussseeeettt…. Mimpi apa aku semalam…?” Ujar Pak Utet sambil menelan liur birahinya. Ia tak mengira bakal bisa melihat wanita idolanya memamerkan tubuh telanjangnya.

“Astagaaaa… Tetekmu besar sekali Neeengg…. Remes terus Neeng… Remes yang kenceng….” Kata pak Utet lirih sambil terus mengocok penisnya yang sudah keras menegang.

Panasnya gelombang birahi Citra benar-benar membuat wanita itu kehilangan akal sehatnya. Merasa kurang puas dengan apa yang ia lakukan, membuat dirinya semakin nekat. Tanpa rasa malu lagi, Citra membuka semua kancing kemejanya dan membiarkan payudaranya terbuka bebas. Lalu dengan gemas, ia meremasi kedua payudara besarnya kuat-kuat.

“Setooooo… Remas tetek aku sayang… Remas yang kuat…” Jerit Citra keenakan sambil membayangkan jika remasan itu dilakukan oleh Seto.

Karena ingin segera mencapai orgasme, Citra terus menjilat dan meremasi payudaranya. Ia pun lalu mengangkat tepi bawah roknya, menaikkan hingga setinggi pusar lalu mengusap klitorisnya.

” Iya sayang… Jilat memek aku….. Cucup lendir kewanitaanku…. Ohhhsss… Nikmat sekali…” tambah Citra lagi sambil mulai menusuk-nusuk vagina gundulnya dengan jemari lentiknya…”Ayo sayang…. Tusuk memekkuuu…Tusuk dengan titit besarmu…” ucapnya berimajinasi.Cerpen Sex

Dengan cepat, jemari-Jemari itu mulai melakukan tugasnya. Masuk, keluar, masuk, keluar. Mengantarkan pemiliknya mendaki gunung kenikmatan yang mulai meninggi. Lendir kenikmatannya pun mulai membanjir basah, keluar tiada henti seiring kocokan jemari tangannya yang semakin cepat.

“CLOK…CLOK… CLOK…” suara tusukan jemari nakal Citra pada vaginanya mulai terdengar nyaring.

“Sodok memek aku Seettt… Ayo sodok… Ooooggghhh…. Terus Setoooo….” Semakin lama kocokan jemari tangannya semakin cepat.

“Terus Neeeng Citra… Kobel terus memek mulusmu Neeeng… “erang pak Utet sambil membelalakkan matanya, “Puasin dirimu sayang… Ssshhh…. Kobel teruuuusss sampe moncoott… Dasar wanita nakaaalll…” erang Pak Utet yang juga melakukan hal serupa, membetoti batang penis tuanya yang sudah semakin renta. Berusaha terus mengimbangi kenikmatan semu persetubuhan akibat terlalu lama tak merasakan kenikmatan vagina wanita.

“Aku harus bisa mendapatkan kenikmatan tubuhnya… Aku harus bisa memasukkan kontol tuaku kedalam memek sempit itu… Aku harus bisa…” Kata pak Utet dalam hati.

Merasa gelombang orgasmenya mulai datang membuat masturbasi Citra semakin dahsyat. Jilatan lidah ke payudaranya semakin buas dan kocokan jemari lentik di vaginanya juga semakin cepat.

“Hooooohhh…. Sssshhhh.. Terus sayaaanng… Sodok terus memek aku dengan titit besarmu… Teruuuss… OOhhh… ”


Ditusuk-tusuk sedemikian rupa, membuat vagina Citra terlihat semakin menggoda. Vagina yang semula putih gemuk itu sekarang sudah berwarna kemerahan dan tembem. Cairan kewanitaannya juga mengalir begitu hebat, hingga menetes-netes jatuh keatas kursi tempatnya duduk.

“CLOK… CLOK… CLOK…” Perlahan tapi pasti, Citra merasakan ada sesuatu akan meledak keluar dari dalam tubuhnya. Desakannya terasa semakin lama semakin kuat, hingga membuat tubuh indahnya meliuk-liuk dan menggeliat tidak karuan. Bibir basahnya terus mendesah menceracau. Nafasnya semakin cepat dan badannya menghangat, seolah terserang demam tinggi. Hingga akhirnya ia merasa ingin ingin pipis.

“Ssshhh.. Aku nggak tahan lagi Set… ”


“NENG CITRA….” mendadak, sesosok pria muncul dari balik tembok dan memutuskan rentetan pra-orgasme Citra. “Lagi ngapain Neng…?” tanyanya lagi dengan mata yang tak berkedip menatap ke arah Citra.

“Eee.. Eh Pak Utet…” Citra kaget sekaget-kagetnya. Saking kagetnya wajah Citra langsung memucat. Ia tak tahu harus berbuat apa. Buru-buru ia segera jongkok, berusaha menyembunyikan tubuh telanjangnya.

Sambil jongkok Citra buru-buru membetulkan semua pakaiannya yang berantakan. Menutup kancing kemejanya yang terbuka dan menurunkan rok pendeknya yang tersingkap sampai pusar.

“Udah Neng… Nggak usah dibenerin bajunya… Bapak sudah tahu kebiasaanmu kok…” Kata pak Utet lagi sembari mendekat ke arah Citra.

Mendadak, mata Citra seolah mau copot. Pak Utet mendekat ke arahnya dengan tanpa mengenakan celana sama sekali. Ia mendekat dengan penis yang sudah mengacung tinggi.

“Bapak bisa membantumu menuntaskan nafsu birahimu Neng…” Ucap pak Utet dengan tatapan mata penuh nafsu..

Diraihnya lengan mulus Citra, dan diajaknya bangkit dari posisi jongkoknya.

“Pak… Jangan Pak..” pinta Citra seolah tau maksud pak Utet sambil berusaha melepaskan pegangan tangannya.

“Berdiri Neng… Kamu nggak usah takut ya Cah Ayu…” Pinta Pak Utet tegas.

“Aku malu pak.. Jangan…”

Karena nafsu Pak Utet sudah sampai ubun-ubun, ia sama sekali tak menggubris larangan Citra. Dengan nafas mendengus-dengus, lelaki tua itu membalik tubuh Citra dan memeluknya dari belakang. Mulut tebalnya lalu menciumi leher jenjang Citra dan tangannya mulai meremasi payudara Citra dengan buas. Sadar jika ia terjebak dalam dekapan lelaki tua itu, Citra berusaha menjauh dari. Tapi karena tenaga wanitanya berbeda jauh, semua itu terasa sia-sia. Citra yang bertubuh jauh lebih kecil dari pak Utet merasa terkunci, sama sekali tak dapat melepaskan diri dari dekapan lelaki tua itu.

“To… Tolong ja… Jangan apa-apakan saya pak… Le-lepaskan saya Pak…”

“Nggak apa-apa kok Neng… Kita sama-sama butuh kepuasan… Biarkan bapak membantumu melepaskan beban birahimu…” ujar Pak Utet yang terus meremasi payudara Citra dari belakang, dan mendesak tubuh rampingnya kedepan hingga ke menabrak meja kerjanya.

“Ahhh…titit Pak Utet tepat di sela-sela pantatku… dia akan memperkosaku…” gelisah Citra ketika merasakan tonjolan hangat penis pak Utet yang mulai berdenyut di belahan pantatnya. “Tititnya besar sekali…. ”

“Ayolah Neng… Mumpung kantor sepi…” ucap Pak Utet sembari terus meremasi payudaranya dan menciumi tengkuk leher Citra. “Yuk Neng… Sebelum orang-orang kantor pada balik… Bapak bantu muasin nafsu birahimu…. ” tambahnya lagi sambil meremas payudara Citra keras-keras.

“Aduh pak… Sakit…”

“Bapak tahu semuanya kok Neng… Kamu sebenernya merasa kurang mendapatkan kepuasan dari suamimu khan? Mmppphhh….” Kata Pak Utet sambil menciumi tengkuk leher Citra. “Kontol kecil suamimu pasti nggak pernah bisa memberikanmu kenikmatan khan? ”

Tak menjawab, Citra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, mencoba menolak semua doktrin yang diberikan oleh lelaki tua itu. Situs Togel Online Terbaik


“Bapak bisa tau Neng… Kontol kecil suamimu pasti tak pernah bisa bermain lama. Kontol suamimu pasti selalu moncrot dikala kamu sedang mencoba menikmatinya… ” Bisik Pak Utet, “Ayolah Neng… Terima tawaran bapak… Selama ini kamu pasti sering membayangkan gimana rasanya ngentot dengan kontol yang jauh lebih besar dari kontol suamimu…. Kamu penasaran dengan kontol pria-pria lain… Percuma Neng punya suami tapi tak pernah bisa memberikan kenikmatan duniawi… Kalau dibiarkan, sampai kapan Neng bakal mengobok-obok memekmu terus..? ”

Entah kenapa, kalimat-kalimat yang dikatakan oleh Pak Utet begitu mengena di hati Citra.

“Ayo Neng… Buruan… Bapak bisa memberimu kenikmatan, sebelum teman-teman kantormu balik… Hanya 10 menit Neng… Bapak bisa memberimu orgasme… Ayo Neng.. Terima tawaran Bapak.. “.

“Citra… Tak ada salahnya menuruti nasehat lelaki tua itu… ” pikir Citra galau. “Toh Mas Marwan sudah memintamu untuk mencari kontol-kontol pria lain… Jadi terima saja tawaran pak Utet ini…”

Entah karena nafsu birahinya yang sudah terlanjur tinggi atau terkena hipnotis lelaki tua itu, Citra tiba-tiba mengangguk setuju. Iapun lalu melemaskan pertahanan tubuhnya. Citra Agustina menerima tawaran mesum cleaning service itu. Terlebih, pelampiasan masturbasinya beberapa saat tadi perlu penuntasan secara cepat.

“Naaahh… Begitu khan enak Neeeng…” kata Pak Utet yang dengan nafas penuh nafsu terus-terusan menciumi tengkuk Citra sambil meremasi payudara indahnya. “Tetekmu benar-benar gede Neng… Montok… Sayang banget kalo nggak diapa-apain… Cuppp..cuuuppp” kata Pak Utet mesum sambil merabai perut dan vagina Citra dari belakang.

“Pak… Jangan keras-keras ya…”

“Hak… hak… hak..” Tawa Pak Utet keras-keras.

Karena nafsu setan pak Utet sudah begitu besar, ia segera mendekatkan pinggulnya ke pantat Citra dan mulai menempatkan kepala penisnya yang sudah berkedut di lubang vagina Citra.

“Maafkan adek Mas…” Kata Citra dalam hati. “Adek hanya mencari kepuasan birahi semata, cintaku masih tetap hanya untukmu…”

Dengan pasrah Citra segera menundukkan tubuhnya kedepan, dan membuka pahanya lebar-lebar, membiarkan penis lelaki tua itu masuk ke dalam tubuhnya.

“Ooohhh… Susah banget Neng… Kontolku sepertinya kesulitan menjebol memek sempitmu…” Ucap Pak Utet bingung.

Penasaran akan penis Pak Utet, Citra segera menengok ke belakang. Dan, seketika itu pula, Citra langsung tahu penyebab sulitnya penis Pak Utet untuk dapat masuk ke liang senggamanya.

“Pak… Tititmu besar sekali…” Jerit Citra panik. Ia buru-buru menjauh dari gesekan penis lelaki tua itu.

“Titit…? Ini KONTOL Neng… KONTOL… hak hak hak..” Jawab Pak Utet sambil mencoba kembali menusukkan kepala penisnya ke vagina Citra dari belakang.

“Jangan Pak…. Sakit… Pasti sakiiitt…” Jerit Citra lagi. “Paaakkk… jangaaaannn..”

“Sttt…. Udah-udah… Kamu diam dan nikmatin saja ya Neng… ” Erang Pak Utet yang kesulitan menusukkan batang penisnya ke liang kenikmatan Citra.

“Sakit paaaakk… Saaakiiitttt…” Jerit Citra begitu merasakan kepala kemaluan Pak Utet mulai memaksa masuk ke dalam vaginanya, membuka lebar mulut celah kewanitaannya hingga batas terlebarnya.


“Sabar Neng… Bentar lagi pasti enak kok… Kamu kesakitan gara-gara kontol kecil suamimu tak pernah memberi kenikmatan… Kontol kecil suamimu mah apa enaknya… Enakan KONTOL BESARKU Neng…”

Mendengar Pak Utet menghina suaminya, Citra mendadak merasakan sensasi aneh. Sensasi nikmat antara sakit hati dan rasa gatal akan sodokan penis besar di vagina, membuatnya mulai merasa keenakan. Secara tiba-tiba Citra semakin membuka lebar-lebar pahanya, supaya mempermudah lelaki tua itu membongkar vaginanya.

“Hak hak hak… Benar-benar istri yang pengertian…”

“Ssshh…. Pak… pelan-pelan…” Pinta Citra sambil terus merasakan dorongan kasar penis besar Pak Utet. Ia sadar jika dalam beberapa detik ke depan, vagina sempitnya akan menerima sodokan penis lelaki lain.

“Sesak banget memek aku Pak… Ssssakit…” jerit Citra lemah ketika ia merasakan kepala penis Pak Utet yang berukuran cukup besar itu mulai memasuki gerbang vaginanya. Citra menarik nafas panjang, sodokan penis besar itu membuat Citra ingin menangis. Namun beruntung, lendir yang keluar ketika ia bermastubasi beberapa saat tadi sedikit banyak agak membantu mengurangi peretnya persetubuhan terlarang mereka. Perlahan tapi pasti, cerpensex.com penis Pak Utet yang besar itu mulai masuk perlahan ke dalam vagina Citra, dan menggesek semua syaraf kenikmatannya. Pelan tapi pasti, vagina sempit Citra menelan penis panjang Pak Utet. Sedikit-demi sedikit mulut dan rongga vaginanya melar, berusaha menyesuaikan diri dengan bentuk penis pria lain ini.

“Uuuuggghhh… Pak… Sakit… Ssshh… Ampun Paaakkk…” desah Citra sambil mengigit bibir bawahnya. Antara bingung, takut dan takjub, Citra tak dapat berkata apa-apa. Ia hanya bisa merintih-rintih sambil terus berusaha menikmati batang panjang Pak Utet ketika merasuk kedalam vaginanya.

“Sakit paaaakkk….”

PLEK..akhirnya, tak beberapa lama kemudian, batang penis Pak Utet berhasil amblas seluruhnya ke dalam liang kenikmatan Citra.

“Ooooohhhh…. Aastagaaa… Ppanjang banget titit lelaki tua ini….” kata Citra dalam hati.

Melihat tubuh Citra yang masih tegang karena dimasuki penis besarnya, Pak Utet tak buru-buru langsung menggoyangkannya. Ia membiarkan Citra untuk dapat menikmati kebesaran batang kelaminnya.

” Hak hak hak… Mentok banget Neng…”tTawa Pak Utet puas. “Goblok sekali suamimu ya Neng… Menyia-nyiakan memek selegit ini… Hak hak hak”

“Ooohhhhmmmm…. ” tak menjawab apapun, Citra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kenapa Neng…?”

” Ssaakit Ppaaakk… Terasa penuh banget…”

“Masa sih? Sakit apa enak? Hak hak hak …” Canda Pak utet, “Kalo sakit, memekmu nggak mungkin bakal memijat kontolku seperti ini Neng…Hak hak hak…”

Merasa kebohongannya diketahui Pak Utet, muka Citra seketika memerah.

“Mulutmu mungkin bisa berbohong, tapi memekmu berkata sejujurnya… Kamu menikmati kontol besarku khaaaann? Hak hak hak…”.

Tak sadar, Citra mengangguk. Ia mengakui kenikmatan yang sedang ia rasakan memang membuatnya seolah terbang. Meskipun pada awalnya ia tak menyukainya, namun entah kenapa, tiba-tiba ia merasakan kenikmatan yan sangat luar biasa.


“Gimana neng…? Mau diterusin apa nggak…?” Goda Pak Utet sambil perlahan mulai menarik batang penisnya keluar dari vagina Citra.

“Oooohhh… Paaak….” geleng-geleng Citra. Ia menyadari jika penis lelaki tua itu mampu mengalahkan rasa malunya. “Jangan Paaak…”

“Jangannnn…? Bener nih…? Kalo nggak mau, kontolnya bapak cabut loh ya..?”

“Jangan Pak…”

“Looohh.. Kok? Jangan gimana Neng? Bapak nggak ngerti… ” tanya Pak Utet pura-pura.

“Jangan dicabut… Pak … Masukin lagi… ”

“Masukin? Masukin gimana Cah Ayuuuu… Masukin apanyaaa..?”

“Masukin tititmu Pak… Sodok memek aku…”

“Titit? Maksud Neng KONTOL? Neng mau bapak nyodokin KONTOL bapak ke memek kamu…. Gitu?”

“Iya Pak… KONTOL… Sodok memek aku dengan KONTOLMU…”

“Naaah Gitu donk… Khan bapak jadi ngerti maksudnya… Hak hak hak.. “gGoda Pak Utet puas. “kamu benar-benar wanita nakal Neng… Ayo sebut… Aku memang wanita nakal…”

“Iya pak… Aku nakal… Oooohh… Aayo Pak… Buruan sodok memek akuuuu…” Jerit Citra yang sudah benar-benar tak mampu menahan gatal birahi di vaginanya.

“Hak hak hak…. Iya Bapak sodok nih… Uhh… Uhhh..Uhhh…” Balas Pak Utet buru-buru memajukan pinggulnya. “Sumpah Neng… Memek kamu peret banget…. Pasti kontol suamimu kecil banget ya? Pasti kamu tak pernah terpuaskan olehnya ya? Hak hak hak…”

“OOoooohhh… Iya Pak.. Iyaaaaaa… KONTOL MAS MARWAN MEMANG TAK PERNAH MEMUASKAN AKU….SODOK TERUS PAK…. TERUUUUSSSS…”Jerit Citra tak tertahankan. Kenikmatan akan persetubuhan terlarang itu membuat dirinya benar-benar lupa daratan.

“HAK HAK HAK..” Tawa Pak Utet puas.

Dengan kekuatan penuh, pak Utet segera menyodokkan penisnya kuat-kuat. Hingga membuat tubuh ramping Citra terdorong-dorong kedepan, menabrak meja.

“Oooouuggghhh… Memekmu sempit sekali Neeeeng.. Pantatmu juga semoookk… bikin bapak pengen nyodok lubang anusmu saja…Oooouuuhhh.. Neeeng ENAAK BANGEEEETTT…” jerit pak Utet.

“iya Paaakk … oooohhh…” teriak Citra tak mau kalah.

Dengan tubuh yang ditunggingkan, Citra membuka pahanya lebar-lebar supaya penis besar pak Utet dapat memompa vaginanya lebih cepat lagi.

“Sodok yang keras Pak… Sodok memek aku paaaak.. ”

“Neng Citraaaa… Kamu benar-benar istri yang nakal..” Goda Pak Utet.”Mirip pelacur murahan…. Hak hak hak..” Tawa pak Utet puas sambil menusuk lubang anus Citra dengan jemari gempalnya.

“Mmmppphhhhh…. Ooouuhh Paakk… Sodok yang kenceng Pak… Aku mau keluar… ”

“Kita keluar bareng ya Neeeng….” tiba-tiba pak Utet mengerang dan menekan tubuh Citra keras-keras. Berkali-kali ia menghentakkan penisnya dalam-dalam hingga membuat Citra mengerang keenakan. Sepertinya, lelaki renta itu sudah tak mampu lagi menahan luapan orgasmenya. “Ooohhhhh…. Neeenng.. ENAAAKKK… ”

CROT CROOT CROOOT..bertubi-tubi, penis Pak Utet itu menyemburkan sperma panasnya, memenuhi setiap rongga vagina Citra. Denyutan demi denyutan penis tua itu terasa begitu nyata, menghantarkan benih-benih kehidupan ke liang rahim Citra


“Neng … Makasih ya suguhan memeknya…. Memang, tak ada yang lebih enak selain ngentotin memek istri orang lain… Hak hak hak…”

“Iiiihh Bapak… Kok ngomongnya mesum gitu.. Iya pak… Sama-sama… Hihihi…” jawab Citra spontan, rupanya ia masih tak sadar jika vaginanya baru saja disembur oleh jutaan sperma dari penis lelaki lain. Ia hanya berharap jika sperma panas pak Utep tak berhasil membuahi telur-telur dirahimnya.

“Neng Citra Agustina… Makasih ya Neng sudah memberi kenikmatan buat bapak…” Kata pak Utep sambil menciumi tengkuk leher Citra. “Sekali lagi makasih….”

Tak beberapa lama, pak Utep pun segera mencabut penisnya yang telah lemas, lalu iapun menghilang ke balik tembok. Meninggalkan Citra yang masih terengah-engah keenakan di atas meja kerjanya, telungkup tak berdaya membiarkan sperma lelaki tua itu menetes-netes keluar dari vagina mulusnya. Termenung, Citra berusaha memikirkan apa yang baru saja menimpa dirinya. Menarik nafas dalam-dalam, Citra mencoba menikmati sisa-sisa denyut orgasmenya.

“Mas Marwan, terima kasih…. Berkat anjuran kalimat-kalimat kotormu tadi pagi, Adek jadi bisa merasakan apa itu namanya kenikmatan dalam persetubuhan… Nikmatnya ketika bercinta… Nikmatnya ketika orgasme… ” kata Citra dalam hati, “adek sadar kalau Adek memintamu terlalu banyak, menuntutmu terlalu banyak… Oleh karena itu Mas, mulai saat ini, Adek tak akan meminta apapun darimu lagi Mas… Adek sudah menemukan apa yang adek cari… Adek sudah menemukan apa yang mas Marwan inginkan, sesuai anjuranmu tadi pagi…”

Setitik air mata tiba-tiba mengalir keluar dari mata indah Citra. Mengalir tanpa bisa ia bendung lagi. Terisak, wanita cantik itu terisak setelah sadar kenakalan yang telah ia perbuat dengan lelaki yang bukan suaminya. Dalam posisi yang masih belum berubah, Citra menangis tersedu-sedu. Semua perasaan bercampur menjadi satu. Antara menyesal, bingung, takut, dan senang, tak bisa ia gambarkan. Yang jelas, saat itu tubuhnya baru saja merasakan kenikmatan dalam persetubuhan. Di tengah isak tangisnya, jemari Citra meraba vaginanya yang masih meneteskan sperma lelaki lain, ia masukkan perlahan kedalam vaginanya, lalu itu jilat.

“Ini adalah sperma lelaki lain pertama yang tersembur di dalam rahimku… ” ucap Citra lagi dalam hati. “Mas… Adek telah memberikan mahkota kenikmatan Adek yang harusnya buat mas semata kepada lelaki lain… Dan Adek ternyata menyukainya… Mungkin ini bukan persetubuhan terakhir Adek dengan lelaki lain Mas… Mungkin ini baru yang pertama….”

Sambil mulai merasakan kembali sisa-sisa kenikmatan orgasme yang masih ia rasakan, tersungging sebuah senyum kepuasan di wajah cantik Citra. “Terima kasih Mas Marwan… Maafkan Adek…”

Cerita Sex Nafsu Birahi Seorang Istri

Subscribe Our Newsletter